Sutoyo Abadi: Prabowo Terjebak dalam Permainan Oligarki dan Xi Jinping?
JAKARTA – Kekuatan oligarki di Indonesia, menurut Sutoyo Abadi dari Merah Putih, memang luar biasa. Mereka mengendalikan banyak hal dari balik layar, membentuk jaringan yang rumit dan menentukan arah politik serta ekonomi negeri ini. Meski sulit diukur secara persis, ancamannya terhadap kedaulatan negara nyata adanya.
Di sisi lain, ada strategi lain yang sedang berjalan. Menurut Sutoyo, Tiongkok punya cara-cara modern yang sangat efektif.
"Strategi Tiongkok modern memengaruhi segala hal, mulai dari penipuan hingga spionase, untuk mengendalikan sasarannya," ujarnya dalam keterangan tertulis akhir Desember lalu.
Ia menggambarkan prosesnya dengan nada prihatin. Bagaimana moral pejabat negara dirusak, dijadikan seperti "ternak piaraan". Hidup para penguasa itu, katanya, ibarat dongeng yang jadi kenyataan. Memang terdengar tidak masuk akal, tapi itulah yang menurut Sutoyo terjadi di Indonesia.
Lalu, apa inti strategi tersebut? Sutoyo merincikan beberapa hal kunci. Pertama, semuanya bertumpu pada tipu daya. Kemenangannya terletak pada kemampuan "mengternakkan" penguasa. Ia juga mengingatkan pada ancaman terselubung Deng Xiaoping: "Sembunyikan kemampuan kita dan tunggu saat yang tepat". Prinsipnya sederhana: lumpuhkan dulu, lalu kuasai.
Tak lupa, rahasia strategis Mao Zedong dikutip. "Ketika musuh maju, kita mundur. Saat mereka bertahan, kita ganggu. Kalau sudah lelah, serang. Dan bila mundur, kejar dan habisi." Prinsip perang klasik itu, menurutnya, masih dipakai.
Yang menarik, strategi dagang Tiongkok pun disebutnya bersumber dari seni perang kontemporer. Meski selalu mendeklarasikan diri tidak akan mencari hegemoni, itu semua tipuan belaka. Kita, kata Sutoyo, kerap lengah melihat niat dan perilaku mereka yang sebenarnya.
Lebih jauh, ia mengungkap bahwa Xi Jinping disebut telah membentuk tim khusus. Tim itu berisi agen-agen dari Ministry of State Security (MSS) atau intelijen Tiongkok.
"Mereka terus bekerja sama dengan birokrat pemerintah untuk 'meremote' pemerintah dan melakukan tindakan preventif memberangus komponen inti bangsa," tegas Sutoyo.
Dua komponen inti yang dimaksud adalah Umat Islam dan Kerajaan Nusantara. Tujuannya satu: menguasai sumber-sumber ekonomi Indonesia. "Xi Jinping pasti belajar dari leluhurnya. Semua cara ditujukan untuk itu," katanya.
Nah, di titik inilah oligarki lokal bermain. Prinsip mereka, menurut Sutoyo, sejalan: "Menaklukkan musuh tanpa berperang adalah puncak keterampilan". Strategi tipu daya menjadi doktrin utama. Kerjasama saling menguntungkan dan jebakan hutang ditawarkan secara masif, bagai umpan yang sulit ditolak.
Dan sayangnya, menurut penilaian Sutoyo, pemerintahan sebelumnya terjebak.
"Karena kedunguan dan ketololannya, Jokowi menangkap perangkap laba-laba itu sebagai anugerah dan keberuntungan," jelasnya tanpa tedeng aling-aling.
Lantas, apa prinsip Xi Jinping? Sutoyo menyebut empat hal. Pertama, ide penaklukan yang mencakup segala aspek: politik, ekonomi, budaya, psikologi, hingga propaganda media. Konsep ini berakar pada ajaran Sun Tzu tentang penipuan dan mengalahkan musuh tanpa pertempuran.
Kedua, soal hutang. Bantuan hutang besar-besaran dari Tiongkok adalah bagian dari "perang non-senjata". Perang dagang, perang finansial. Jika tak mampu bayar, ancamannya jelas: negara bisa dilelang.
Ketiga, penekanan pada penipuan dalam segala hal. Hingga akhirnya Indonesia masuk jerat laba-laba Tiongkok sebuah petaka besar.
Keempat, kesalahan yang dianggapnya fatal.
"Dosa tak terampuni bagi Jokowi. Tidak ada gunanya menangis dan minta maaf setelah berkuasa dan menyeret negara jadi porak-poranda," tandasnya keras.
Kini, harapan rakyat tertumpu pada Presiden Prabowo Subianto. Ada ekspektasi besar agar negara bisa keluar dari jaring laba-laba itu. Namun, sinyal yang tertangkap Sutoyo justru mengkhawatirkan.
Menurutnya, mulai terasa bahwa Prabowo dan kabinetnya justru terjebak dalam strategi licik yang sama: permainan oligarki dan langkah-langkah Xi Jinping. Harapan tinggal harapan? Waktulah yang akan menjawab.
Artikel Terkait
Mentan Targetkan Swasembada Bawang Putih dalam 5 Tahun, Jadikan NTB Sentra Utama
Timnas Indonesia U-17 Dibantai China 0-7 dalam Uji Coba Pahit
Thomas Aquinas Dilantik sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia
Ketua MA Kecewa Dua Hakim Depok Jadi Tersangka KPK