Mengapa Para Sarjana Barat Memuji Nabi Muhammad?

- Kamis, 25 Desember 2025 | 09:50 WIB
Mengapa Para Sarjana Barat Memuji Nabi Muhammad?
Gaung Sang Nabi: Melintas Batas Keyakinan dan Kritik

Sejarah peradaban manusia mencatat banyak nama besar. Tapi, hanya segelintir yang namanya tak lekang oleh waktu, terus dibicarakan dan diteliti berabad-abad setelahnya. Sosoknya melintasi benua, melewati batas-batas keyakinan.

Di antara nama-nama itu, berdiri Nabi Muhammad Saw. Pengakuan terhadapnya tak cuma datang dari kalangan muslim. Yang menarik, justru banyak berasal dari para orientalis dan sarjana Barat. Mereka datang dengan latar belakang dan prasangka yang beragam, namun seringkali pulang dengan satu hal: kekaguman.

Memang, bagi sebagian orang, kata 'orientalis' langsung terasosiasi dengan kritik terhadap Islam. Tapi realitanya lebih berwarna. Tak sedikit dari mereka yang, setelah menyelami penelitian secara mendalam, justru memberikan pengakuan yang jujur. Mereka bicara soal kehebatan pribadi Muhammad, kecerdasannya memimpin, integritasnya yang kokoh, dan tentu saja, pengaruhnya yang mengubah peta sejarah.

Michael H. Hart, sejarawan asal Amerika, punya pendapat yang cukup tegas. Dalam bukunya yang terkenal, "The 100", ia menempatkan Muhammad di urutan pertama.

"Muhammad adalah satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih kesuksesan luar biasa dalam ranah spiritual dan duniawi secara bersamaan," tulisnya.

Suara serupa datang dari Annie Besant, penulis dan aktivis Inggris. Dalam "The Life and Teachings of Muhammad", ia menyatakan, "Sungguh mustahil bagi siapa pun yang membaca sejarah hidupnya dengan tulus, tanpa prasangka, untuk tidak merasakan penghormatan yang mendalam terhadap manusia besar Arab ini."

Filsuf Skotlandia Thomas Carlyle bahkan lebih keras menyanggah narasi negatif yang beredar di Barat. Dalam karyanya "On Heroes, Hero-Worship and the Heroic in History", ia menyebut Muhammad sebagai "pahlawan dalam bentuk Nabi".

"Kebohongan kotor seperti itu menghina kita sendiri," cetusnya tentang propaganda keliru terhadap Nabi. "Kita tidak bisa percaya bahwa dusta dapat membangun agama sebesar Islam."

Di era yang lebih kontemporer, sejarawan Karen Armstrong melihat Muhammad dari kacamata yang lain. Baginya, beliau adalah "reformis sosial radikal" yang berhasil mengangkat martabat kelompok-kelompok yang terpinggirkan anak yatim, budak, perempuan, dan orang miskin. Sebuah perubahan sosial yang visioner.

Montgomery Watt, orientalis terkemuka, menyimpulkan dengan kata-kata yang lugas: “Muhammad was a sincere man… He was not a deceiver.” Ia juga menambahkan, “He deserves our admiration for founding a religion which guided countless people for centuries.”

Namun begitu, tentu tidak semua pandangan bernada positif. Gelombang kritik dan tuduhan negatif juga hadir dari beberapa kalangan orientalis. William Muir, sejarawan Inggris abad ke-19, misalnya. Dalam "Life of Mahomet", ia meragukan kenabian Muhammad dan mengaitkan wahyu dengan kondisi psikologis. Karyanya kerap dijadikan rujukan di era kolonial.

Lebih keras lagi, Humphrey Prideaux di abad ke-17 secara terang-terangan menyebut Nabi sebagai "impostor" atau penipu dalam tulisannya. Voltaire, sang filsuf Prancis, juga menggunakan sosok Muhammad sebagai simbol fanatisme dalam dramanya, meski itu lebih merupakan alat dramatik ketimbang analisis historis yang objektif.

Lalu, bagaimana dengan pandangan umat Islam sendiri? Tentu, penilaian dari luar entah itu memuji atau mencela tidak lantas menggeser perspektif mereka. Bagi muslim, rujukan utama dalam memandang Nabinya tetap berasal dari khazanah keilmuan Islam yang kaya.

Para ulama melihat Rasulullah bukan sekadar pembawa wahyu. Beliau adalah pemimpin yang mentransformasi peradaban, mengubah tradisi jahiliah menjadi masyarakat yang berilmu, dan membentuk akhlak mulia dari keburukan yang membelenggu.

Imam Al-Ghazali, misalnya, menulis bahwa akhlak Nabi adalah "akhlak yang mencapai puncak kesempurnaan insani, hingga menjadi timbangan bagi akhlak manusia."

Pujian yang puitis datang dari Imam Al-Bushiri dalam Qasidah Burdah. Ia menggambarkan Muhammad bagai matahari, sementara nabi-nabi lain laksana bintang yang memantulkan cahayanya.

Di tanah air, para tokoh juga punya cara pandangnya masing-masing. Buya Hamka melihat Nabi sebagai revolusioner moral dan pembebas sejati. "Nabi Muhammad adalah akhlak," tulisnya. "Barangsiapa mencintai beliau, hendaklah ia menghiasi hidupnya dengan akhlak itu."

Pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, menekankan sisi aksi. Meniru Nabi, baginya, harus dengan amal dan kerja nyata, bukan sekadar diam.

Sementara KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama, lebih menitikberatkan pada Nabi sebagai guru ilmu dan akhlak. "Mengikuti jejak Nabi adalah adab," tegasnya. "Adab mendahului ilmu, sebagaimana Muhammad mendahului umatnya dalam kemuliaan."

Mohammad Natsir, negarawan dan intelektual muslim, memberikan perspektif politik yang etis. Baginya, Nabi Muhammad adalah contoh bagaimana memimpin sebuah negara dengan landasan moral yang kuat. "Pada Muhammad, agama bukan alat kekuasaan, kekuasaan tunduk pada agama," ujarnya. "Negara tanpa akhlak Muhammad adalah bangunan tanpa fondasi."

Begitulah. Dari berbagai sudut pandang, sosok itu terus mengundang pembahasan. Sebuah bukti bahwa pengaruhnya memang tak terbantahkan, melampaui sekat-sekat yang sering kita buat.

Nuim Hidayat
Direktur Forum Studi Sosial Politik.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar