Emas Siap Melonjak Pekan Depan, Dipicu Gejolak Politik dan Aksi Militer AS

- Minggu, 04 Januari 2026 | 12:40 WIB
Emas Siap Melonjak Pekan Depan, Dipicu Gejolak Politik dan Aksi Militer AS

Pergerakan harga emas dunia diprediksi bakal bergerak liar pekan depan. Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat pasar uang dan komoditas, melihat kecenderungan kuat untuk logam mulia ini melonjak signifikan di awal Januari 2026. Pemicunya? Suasana geopolitik global yang memanas dan dinamika politik dalam negeri Amerika Serikat.

Menurutnya, kedua faktor itu akan jadi motor penggerak utama saat pasar dibuka Senin besok, tanggal 5 Januari.

"Ada kemungkinan besar di minggu depan sampai hari Sabtu, Sabtu pagi kemungkinan kalau harga emas dunia naik, harga logam mulia itu di Rp2.610.000,"

Ibrahim menyampaikan proyeksi itu pada Minggu (4/1). Ia merujuk pada penutupan harga Sabtu pagi di level USD4.332 per troy ounce, dengan harga domestik logam mulia berada di angka Rp2.488.000 per gram. Untuk sepekan ke depan, ia memaparkan dua skenario yang mungkin terjadi.

Skenario pertama, jika harga emas dunia terkoreksi ke USD4.258 pada Senin, maka harga logam mulia dalam negeri bisa turun ke Rp2.458.000. Namun begitu, skenario kenaikan terlihat jauh lebih kuat. Ibrahim memprediksi emas dunia berpeluang melonjak ke USD4.426 di hari yang sama, yang akan mendongkrak harga logam mulia ke level Rp2.518.000.

Lalu, apa yang membuat pasar begitu panas? Ibrahim menyoroti rentetan peristiwa luar biasa di awal tahun. Mulai dari serangan drone ke kediaman Putin yang dibalas Rusia dengan aksi masif di Ukraina, hingga ketegangan di Iran akibat intervensi AS dalam demonstrasi besar-besaran di sana.

Tapi yang paling mengejutkan, tentu saja, adalah aksi militer Amerika Serikat di bawah perintah Donald Trump. Mereka menyerang Venezuela, menangkap Presiden Maduro beserta istrinya, dan membawa mereka ke AS. Langkah sepihak Trump ini, dilakukan tanpa persetujuan Kongres.

"Geopolitik memang benar-benar membuat harga emas kemungkinan besar akan kembali melakukan kenaikan yang cukup signifikan,"

Langkah Trump itu diprediksi bakal memicu mosi tidak percaya dan memanaskan situasi politik dalam negeri AS. Di sisi lain, ada juga faktor kebijakan moneter. Bank Sentral Amerika dikabarkan akan kembali mengucurkan stimulus sebesar USD40 miliar per bulan untuk buyback obligasi. Kebijakan ini memberi tenaga tambahan bagi emas untuk terus menguat.

Selain ketegangan, Ibrahim juga melihat secercah sisi positif dari pemulihan ekonomi China pasca krisis properti. Data infrastruktur akhir 2025 mereka terlihat solid. Meski sentimen positif dari Asia ini ada, Ibrahim tetap memperingatkan bahwa sentimen "perang" masih mendominasi pasar.

Ketegangan internasional pasca penangkapan Maduro dipastikan memicu kecaman luas, dari Rusia hingga negara-negara Eropa. Dalam situasi seperti ini, aset aman seperti emas akan jadi buruan utama para investor yang mencari perlindungan. Pekan depan, semua mata akan tertuju pada grafik yang bergerak liar itu.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar