CUMA 14 MILIAR?
Jumlahnya terasa sangat kecil, bukan?
Nah, coba bayangkan skenario yang lebih besar. Menurut sejumlah pengamat, jika program MBG ini benar-benar berjalan hingga 2029, anggarannya bisa menembus angka fantastis: lebih dari 300 triliun rupiah. Angka yang sedemikian besar itu, tentu saja, membuka peluang lebar-lebar. Salah satunya? Melahirkan segudang politisi muda kaya raya, banyak di antaranya berasal dari dinasti politik yang sudah mapan di daerah.
Dan inilah yang bikin skemanya terasa "aman". Uang dari proyek MBG itu legal adanya. Semuanya berjalan di atas kertas yang seolah-olah bersih.
Akibatnya, bisa ditebak. Prinsipnya jadi serba "bodo amat". Apa rakyat dapat makanan yang bergizi? Pantas atau tidak harganya? Itu urusan kesekian. Yang penting, ambil untung sebanyak-banyaknya. Semua itu bebas, tanpa rasa was-was.
Di sisi lain, setelah makanan itu dikonsumsi anak-anak, siapa yang bisa menelusuri kebenarannya? Makanan sudah berubah jadi kotoran. Bahkan untuk sampel makanan yang terbuang pun, buktinya sulit dilacak. Semuanya seperti menghilang begitu saja.
Makanya, terkesan bego kalau sekarang masih main proyek ijon model lama. Jauh lebih cerdas kalau fokus bikin dapur penyelenggara MBG. Cukup punya 100 dapur, misalnya. Wah, hitung-hitungannya bisa bikin mata berbinar. Uang yang mengalir bisa lebih dari 1 triliun per tahun. Gila, kan?
Pada akhirnya, banyak yang berkomentar bahwa langkah ini seperti memberi jalan keluar yang mulus. Sebuah skema bagi-bagi proyek yang terlihat legal dan terasa aman dari segala tuntutan.
(By Tere Liye)
Artikel Terkait
Rem Blong Truk Pasir Picu Tabrakan Beruntun di Exit Tol Cilegon Timur
Presiden Prabowo Gelar Forum Dialog Bahas Arah Politik Luar Negeri
5 Februari dalam Catatan: Apollo 14 Mendarat di Bulan hingga Pemberontakan Kapal Belanda
Adies Kadir Segera Dilantik sebagai Hakim MK di Hadapan Presiden Prabowo