Menurut Alissa Wahid, putri sulung Gus Dur yang juga Ketua Panitia, tema itu diangkat untuk menghidupkan kembali teladan ayahnya dalam mengawal demokrasi.
Alissa lantas menjelaskan kegelisahannya. Menurutnya, peran rakyat dalam kehidupan berbangsa belakangan ini justru semakin tersingkir. Padahal, setiap orang punya martabat, hak, dan aspirasinya sendiri.
Acara pun berlangsung khidmat seperti biasanya. Pembacaan selawat oleh Azzam Nur Mukjizat dan alunan hadroh dari Grup Sahoutul Munawaroh membuka rangkaian acara. Puncaknya, tahlil akan dipimpin oleh KH. A. Mu’adz Thohir, dilanjutkan doa bersama yang dipanjatkan oleh KH. Abdul Hakim Mahfudz. Suasana hening, penuh makna, mengingat seorang guru bangsa yang selalu merindukan kedaulatan ada di tangan orang banyak.
Artikel Terkait
Main Hakim Sendiri Berujung Buntung: Korban Pencurian Malah Jadi Tersangka
Persoalan Kertas yang Merenggut Nyawa: Bocah 10 Tahun Bunuh Diri Usai Keluarga Tak Kebagian Bansos
Akhir Tragis Sang Raja Penipuan Online di Perbatasan Myanmar
KPK Bergerak Lagi, OTT Sasar Pejabat Bea Cukai