Di sebuah posko pengungsian di Agam, suasana masih terasa berat. Presiden Prabowo Subianto tengah meninjau lokasi, melihat dari dekat dampak banjir dan longsor yang melanda. Di sampingnya, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya ikut serta, menyimak setiap cerita yang terlontar dari warga.
Teddy, dengan kemeja putihnya, tampak memegang buku catatan kecil. Perhatiannya tertuju pada seorang ibu yang wajahnya masih membalut perban hasil pertolongan dokter kepolisian di posko kesehatan setempat. Ibu itu mulai bercerita. Tak lama, beberapa ibu lainnya pun mendekat, mengelilingi Teddy. Suara mereka bersahutan, menyampaikan keluhan dan kebutuhan yang mendesak.
Mendengar itu, Teddy langsung membuka buku catatannya. Dengan pulpen di tangan, ia mencatat point-point penting yang disampaikan para ibu. Gerakannya cepat, serius, seolah tak ingin ada satu pun permintaan yang terlewat.
Artikel Terkait
Pemerintah Pacu Pembentukan Badan Pengawas Data Pribadi, Targetkan Perpres 2026
Sepuluh Ribu Rupiah yang Tak Terbeli: Ketika Sebatang Pena Menjadi Harga Sebuah Nyawa
HNW Pertanyakan Nasib Kampung Haji dalam RKAT BPKH 2026
Prabowo dan Alarm Demokrasi: Ketika Kritik Dikira Ancaman