Al-Qur’an Sudah Ingatkan Soal Hoaks, Ini Panduan yang Terlupakan

- Sabtu, 20 Desember 2025 | 16:50 WIB
Al-Qur’an Sudah Ingatkan Soal Hoaks, Ini Panduan yang Terlupakan

Oleh: Nurul Hidayah

وَاِذَا جَاۤءَهُمْ اَمْرٌ مِّنَ الْاَمْنِ اَوِ الْخَوْفِ اَذَاعُوْا بِهٖ ۗ وَلَوْ رَدُّوْهُ اِلَى الرَّسُوْلِ وَاِلٰٓى اُولِى الْاَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِيْنَ يَسْتَنْۢبِطُوْنَهٗ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطٰنَ اِلَّا قَلِيْلًا

“Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka (langsung) menyiarkannya. Padahal apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahui (secara resmi) dari mereka (Rasul dan ulil amri). Sekiranya bukan karena karunia dan Rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali, sebagian kecil saja (diantara kamu).” (QS An-Nisa: 83).

Informasi sekarang bergerak begitu cepat. Terlalu cepat, mungkin. Nalar kita kerap kewalahan mencerna, sementara jari-jari sudah terlanjur lincah mengetik dan membagikan. Media sosial mengubah kita semua siapapun menjadi penyiar dadakan. Pikirannya? Kadang malah datang belakangan.

Fenomena “share” dulu, verifikasi belakangan, sudah jadi kebiasaan yang mengkhawatirkan. Ditambah lagi konten-konten viral yang sumbernya tak jelas, dan budaya “asal sebar” demi tak ketinggalan. Hasilnya? Polusi informasi. Hoaks bukan cuma soal kebohongan biasa lagi, tapi sudah jadi ancaman serius yang bisa menghancurkan nama baik dan memecah-belah masyarakat.

Menariknya, soal kekacauan informasi ini sebenarnya sudah diingatkan sejak lama. Empat belas abad silam, Al-Qur’an lewat Surat An-Nisa ayat 83 sudah memberi peringatan keras sekaligus panduan yang sangat relevan. Ayat ini bukan cuma teks kuno, tapi lebih mirip kompas etika bagi kita yang hidup di zaman digital. Sebuah penuntun agar kita tidak tersesat di rimba data yang penuh jebakan.

Latar Belakang Turunnya Ayat

Ayat ini punya konteks sejarah yang kuat. Ia turun bukan tanpa sebab, melainkan merespons langsung gejolak sosial di Madinah. Setidaknya ada dua riwayat utama yang menceritakan latarnya.

Pertama, soal isu perceraian Nabi. Imam Muslim meriwayatkan dari Umar bin Khattab, suatu ketika beredar kabar burung di Madinah bahwa Rasulullah SAW menceraikan semua istrinya. Kabar ini bikin panik. Banyak orang sedih dan cemas, sampai-sampai ada yang menangis di masjid. Umar yang mendengar hal itu langsung bergerak. Ia mendatangi Nabi untuk konfirmasi.

“Tidak,” jawab Nabi SAW singkat. Ternyata beliau hanya sedang mengasingkan diri sebentar.

Umar lalu bergegas kembali ke masjid dan berteriak, “Rasulullah tidak menceraikan istri-istrinya!”

Nah, ayat ini turun sebagai teguran buat mereka yang buru-buru menyebar berita panas sebelum dicek kebenarannya ke pihak yang berwenang.

Kedua, terkait kabar militer. Riwayat lain menyebut, dulu ada kelompok munafik atau sebagian Muslim yang mentalnya lemah. Mereka sering menyebarkan berita kemenangan atau kekalahan pasukan Islam sebelum ada pengumuman resmi dari pimpinan. Kalau berita baik, jadi lengah. Kalau berita buruk, langsung ciut nyali dan takut. Ayat ini turun sebagai pengingat agar informasi strategis apalagi yang menyangkut keamanan tidak dibocorkan sembarangan ke publik.

Intinya, ayat ini teguran untuk yang suka cerita duluan, tabayun belakangan.

Kaitan dengan Ayat Lain

Kalau dilihat lebih luas, ayat ini punya korelasi yang erat dengan ayat-ayat lain dalam Surat An-Nisa. Misalnya, dengan ayat 59 yang memerintahkan taat kepada Allah, Rasul, dan Ulil Amri. Nah, perintah mengembalikan berita kepada mereka berdua di ayat 83 ini adalah bentuk aplikasinya. Semacam protokol komunikasi agar masyarakat tidak kacau balau karena informasi yang simpang siur.

Lalu ada kaitannya juga dengan ayat 82, yang menyinggung soal tadabbur Al-Qur’an. Ayat sebelumnya bertanya, “Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an?” Jadi, orang yang daya kritis dan perenungannya baik, insya Allah tidak gampang termakan hoaks. Kegagalan mengelola info (ayat 83) seringkali berawal dari minimnya tadabbur (ayat 82).

Selain itu, Surat An-Nisa kan banyak bicara tentang keadilan, hak perempuan, dan anak yatim. Nah, ketidakadilan itu sering berawal dari fitnah dan kesaksian palsu, yang sumbernya ya informasi ngawur. Jadi, dengan menjaga lisan (dan jempol) dari menyebar hoaks, kita sebenarnya ikut menjaga pilar keadilan itu sendiri.

Bagaimana Para Ahli Tafsir Memahaminya?

Membaca ayat ini sekarang terasa seperti dapat penuntun hidup di tengah banjir informasi. Untuk menggali maknanya lebih dalam, mari kita simak bagaimana para mufassir menafsirkannya.

M. Quraish Shihab dalam “Tafsir Al-Misbah” menyoroti sisi psikologisnya. Kata “idza ja’ahum” (apabila datang kepada mereka) menggambarkan betapa info terutama yang terkait rasa aman atau takut sering datang tiba-tiba dan langsung menyentuh emosi. Ada rasa bangga kalau bisa jadi yang pertama share. Tapi Shihab mengingatkan, tidak semua kebenaran wajib disebar. Kalau berpotensi gaduh atau rusak suasana, lebih baik ditahan dulu. Itu bagian dari etika.

Ismail bin Katsir lewat “Tafsir Ibnu Katsir” lebih keras. Beliau mengutip hadis bahwa menyampaikan setiap yang didengar tanpa saring dulu bisa menjerumuskan seseorang pada kedustaan. Bagi Ibnu Katsir, orang yang buru-buru sebarkan hoaks posisinya nyaris sama dengan pembuat hoaks itu sendiri. Tegas sekali.

Wahbah az-Zuhaili dalam “Tafsir Al-Munir” mengupas diksi “yastanbitunahu” yang arti harfiahnya “mengeluarkan air dari dasar sumur”. Ini metafora yang kuat. Maknanya, untuk paham suatu informasi, kita harus menggali sampai ke akarnya. Bukan cuma baca judul atau lihat cuplikannya saja. Prosesnya butuh analisis dan cross-check. Otoritasnya, kata Az-Zuhaili, harus dikembalikan ke Ulil Amri atau dalam konteks sekarang: para ahli dan institusi resmi.

Sementara Ahmad Mushthafa Al-Maraghi lewat “Tafsir Al-Maraghi” melihat dari sudut ketahanan nasional. Ia membagi info jadi dua: berita keamanan (yang bisa bikin euforia berlebihan) dan berita ketakutan (yang bisa runtuhkan mental). Penyebaran berita buruk sebelum waktunya, kata Al-Maraghi, sering jadi senjata musuh untuk melemahkan dari dalam. Solusinya? Masyarakat harus punya self-censorship, kemampuan mengerem diri. Itu kunci kedewasaan bermedia.

Hikmah yang Bisa Kita Petik

Dari semua pembahasan tadi, ada beberapa pelajaran penting yang bisa kita pegang.

Pertama, seni menahan diri. Di era FOMO (Fear of Missing Out), jadi yang paling cepat share bukanlah prestasi. Al-Qur’an mengajak kita pasang “rem” internal. Sebelum pencet tombag bagikan, tanya diri: “Bener nggak nih? Kalau bener, perlu nggak disebar sekarang?”

Kedua, pentingnya menghargai kepakaran. Sekarang semua orang bisa ngomong. Tapi Al-Qur’an mengarahkan kita untuk kembali ke ahlinya. Soal agama, tanya ke ulama yang mumpuni. Soal kesehatan, ke dokter. Jangan cuma percaya thread Twitter yang sumbernya anonim.

Ketiga, jadilah “saringan”, bukan “corong”. Kalau dapat info meragukan, hentikan di kamu. Jangan jadi perantara yang memperluas dampak buruknya. Ingat, satu kali klik bisa pengaruhi ribuan orang.

Keempat, jaga kesehatan mental di ruang digital. Ikuti setiap rumor dan gosip cuma bikin lelah pikiran. Dengan tabayun dan tidak reaktif, kita justru menjaga ketenangan batin sendiri. Al-Qur’an menginginkan kita hidup dalam lingkungan yang stabil, bukan penuh kecurigaan.

Penutup

Dari penelusuran ini, jelas bahwa Al-Qur’an sudah memberi kerangka visioner soal manajemen informasi jauh sebelum internet ada. Analisis sabab nuzul menunjukkan, buru-buru menyebar berita entah itu urusan domestik atau strategis hanya akan ciptakan kegaduhan.

Melalui tafsiran para ulama, kita diingatkan bahwa verifikasi itu bukan cuma urusan teknis. Tapi lebih ke tanggung jawab moral dan spiritual. Di era banjir informasi seperti sekarang, prinsip istinbat atau penggalian mendalam jadi kunci untuk putuskan rantai hoaks.

Jadi, menjadi pribadi yang literat menurut Al-Qur’an berarti punya kemampuan menahan diri dari godaan viral, dan memilih mengembalikan informasi ke ahlinya. Dengan begitu, kita tak cuma hindari dosa fitnah, tapi juga ikut rawat kewarasan publik dan kedamaian di dunia maya. Pada akhirnya, literasi digital adalah wujud nyata ketaatan kita dalam menjaga kebenaran di tengah samudra informasi yang serba tak pasti.

Mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar