“Kami mengkonfirmasi bahwa benar, telah menarik sebuah konten di kanal media sosial CNN Indonesia. Konten tersebut rentan disalahgunakan sehingga berpotensi memicu framing dan mendiskreditkan pihak tertentu,” bunyi pernyataan yang dibagikan via Instagram mereka.
Alasannya: takut disalahgunakan. Tapi bagi banyak warganet, alasan itu kurang meyakinkan. Justru terkesan seperti upaya menutupi sesuatu. Kritik pun mengalir deras. Banyak yang menilai tindakan penghapusan itu mengurangi transparansi dan justru menutup akses publik pada gambaran nyata di lapangan.
Di Twitter, salah satu komentar cukup keras menohok.
dear @CNNIndonesia kenapa kalian hapus berita Irine yang ini? ada jendral yang tersinggung atau bapak owner ga terima?
Sebenarnya, aksi jurnalis menangis saat meliput bukan hal baru. Tapi reaksi publik terhadap video Irine ini menunjukkan sesuatu. Masyarakat rupanya masih sangat menghargai kejujuran dan empati yang terpancar dari lapangan. Tangisnya bukan dilihat sebagai kelemahan, melainkan bentuk keprihatinan yang otentik.
Di sisi lain, insiden ini mengingatkan kita lagi pada isu lama: kebebasan pers dan transparansi media. Apalagi saat meliput bencana, informasi yang jernih dan tanpa sensor itu vital. Ketika sebuah video yang menunjukkan penderitaan korban tiba-tiba lenyap, yang muncul justru pertanyaan dan kecurigaan. Seperti kata seorang netizen, “Jangan biarkan fakta di-take down begitu saja.”
Memang, akhirnya semua kembali pada pilihan redaksi. Tapi setelah ini, mungkin ada pelajaran berharga. Di era di mana setiap detik bisa direkam dan disebar, upaya menutupi sesuatu justru sering kali bikin api kritik makin membesar. Publik sekarang lebih cerdas. Mereka bisa merasakan mana yang tulus, dan mana yang diatur.
Artikel Terkait
Main Hakim Sendiri Berujung Buntung: Korban Pencurian Malah Jadi Tersangka
Persoalan Kertas yang Merenggut Nyawa: Bocah 10 Tahun Bunuh Diri Usai Keluarga Tak Kebagian Bansos
Akhir Tragis Sang Raja Penipuan Online di Perbatasan Myanmar
KPK Bergerak Lagi, OTT Sasar Pejabat Bea Cukai