Benteng Kayu: Pesantren Aceh Tamiang Jadi Penyelamat di Tengah Amukan Banjir Bandang

- Jumat, 19 Desember 2025 | 11:20 WIB
Benteng Kayu: Pesantren Aceh Tamiang Jadi Penyelamat di Tengah Amukan Banjir Bandang

Desember 2025. Saat banjir bandang menerjang Kabupaten Aceh Tamiang, sebuah pondok pesantren tak terduga menjadi pahlawan. PP Darul Mukhlisin tiba-tiba viral. Bukan karena kajiannya, tapi karena fisik bangunannya yang berubah jadi ‘benteng’ penyelamat bagi warga di sekitarnya.

Ceritanya begini. Arus deras dari hulu bukan cuma membawa air, tapi juga jutaan batang kayu gelondongan. Bayangkan saja, kayu-kayu besar itu meluncur deras, mengancam langsung pemukiman padat penduduk. Nah, di sinilah peran pesantren itu muncul. Bangunannya yang kokoh, entah bagaimana, berhasil menahan laju kayu-kayu itu. Seperti penyaring raksasa.

Alhasil, kawasan permukiman di belakang pesantren selamat dari hantaman langsung. Kerusakan yang jauh lebih parah bisa saja terjadi andai kayu-kayu besar itu menerjang rumah-rumah warga. “Kompleks pesantren lah yang menahan semua,” kata seorang relawan di lokasi.

Tapi, pengorbanannya besar. Sekarang, area pesantren itu berubah total. Mirip lautan kayu, dengan tumpukan material setinggi dua sampai tiga lantai kira-kira 6 hingga 8 meter. Semua bangunan di dalamnya rusak berat. Hanya masjid utamanya yang masih tegak berdiri, kokoh di tengah tumpukan kayu dan sisa-sisa kehancuran.

Aktivitas belajar mengajar? Lumpuh total. Lantai dasar semua gedung tertimbun lumpur tebal dan tentu saja, kayu. Sulit dibayangkan kapan santri-santri bisa kembali mengaji di ruang kelas mereka. Pihak pesantren dan warga sekarang cuma bisa berharap pada bantuan pemerintah. Mereka butuh alat berat untuk membersihkan semua ini, butuh waktu yang tidak sebentar.

Kisah Darul Mukhlisin ini dengan cepat menyebar, menjadi simbol ketangguhan yang nyata. Di satu sisi, ia hancur. Di sisi lain, kehancurannya itu justru menjadi tameng bagi orang lain.

Bahkan peristiwa ini sampai menarik perhatian tokoh nasional.

“PP Darul Mukhlisin, pesantren yang jadi benteng saat bencana, menahan laju kayu-kayu yang menuju pemukiman…”

Ungkapan itu beredar luas, menggambarkan betapa sebuah tempat ibadah dan ilmu telah berubah peran di saat genting. Bencana datang tak terduga, tapi terkadang, pahlawan juga muncul dari tempat yang tak terduga.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar