Setelah terputus berminggu-minggu akibat amukan banjir dan longsor, Jembatan Teupin Reudeup di Aceh akhirnya bisa dilintasi lagi. Kabar baik ini tentu melegakan banyak pihak, terutama warga yang selama ini terisolasi.
Dengan tersambungnya jembatan ini, akses vital pun kembali pulih. Wilayah Aceh Tenggara dan Gayo Lues kini terhubung kembali. Rute dari Banda Aceh menuju Aceh Tengah lewat Beutong Ateuh di Nagan Raya juga kembali hidup, membuka jalan bagi pergerakan orang dan barang.
Menurut Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Abdul Muhari, jembatan itu dibuka untuk kendaraan roda empat tepat pukul 17.03 WIB, Jumat sore.
“Jembatan sudah bisa dilalui kendaraan roda empat pada pukul 17.03 WIB,” ujarnya.
Sesaat setelah dibuka, suasana langsung ramai. Warga berbondong-bondong datang, ada yang berjalan kaki, ada pula yang langsung mencoba melintas dengan kendaraan. Di sisi jembatan, bendera merah putih berkibar, seolah menyambut kembalinya kehidupan normal di jalur itu.
Yang paling menyentuh, lantunan selawat dan doa syukur berkumandang sepanjang jembatan. Rasa haru itu jelas terasa. Bagi mereka, ini bukan sekadar tumpukan besi dan beton yang tersambung, tapi bukti kerja keras tanpa lelah dari banyak pihak untuk menghidupkan kembali urat nadi transportasi mereka.
Proses perbaikan sendiri dipimpin langsung oleh Bupati Bireuen, Mukhlis. Saat ini, pengoperasian jembatan masih dalam masa uji coba terbatas, terutama untuk memprioritaskan distribusi logistik yang tertahan.
Pengerjaannya tak mudah. Jembatan sepanjang 39 meter itu disambung menggunakan material dari Kementerian PUPR, dengan sentuhan akhir dari personel Batalyon Zeni Tempur 16/Dhika Anoraga.
Dalam keterangan tertulisnya, Pusat Penerangan TNI menyebut pekerjaan teknis seperti penyetelan baut dan pemasangan gelagar rambatan telah rampung.
“Pekerjaan teknis seperti penyetelan baut papan lantai dan pemasangan gelagar rambatan telah dilaksanakan. Jembatan segera difungsikan untuk mendukung kelancaran lalu lintas dan aktivitas masyarakat,” demikian pernyataan mereka.
Jadi, meski masih bertahap, harapan sudah jelas terpancar. Jembatan itu kembali berdiri, menghubungkan bukan hanya dua sisi sungai, tapi juga cerita dan masa depan warga Aceh.
Artikel Terkait
Arus Balik Penduduk: Makassar Alami Migrasi Keluar Tertinggi, Gowa dan Maros Jadi Tujuan Utama
Juru Parkir di Makassar Viral Minta Tarif Rp20.000, Polisi Amankan Pelaku
Akun Instagram Ahmad Dhani Diduga Diretas, Munculkan Promo Emas dan iPhone dengan Harga Tak Wajar
Mahfud MD: KPRP Rekomendasikan Kompolnas Jadi Lembaga Independen Pengawas Polri