Bangkok masih panas dan riuh siang itu, Rabu (17/12/2025). Tapi di lapangan panahan, Diananda Choirunisa tampak tenang luar biasa. Padahal, pagi harinya ia baru saja mendapat kabar yang mengubah segalanya: dirinya sedang mengandung anak kedua. Kabar itu tak menghentikannya. Ia malah melesatkan anak panah dengan presisi tinggi, menghadirkan dua medali emas untuk Indonesia dari nomor beregu putri dan individu.
Ya, kehamilan tak jadi halangan. Justru, momen itu membuat kemenangannya di SEA Games 2025 terasa jauh lebih istimewa. Sebuah pencapaian yang bicara lebih keras dari kata-kata.
Diananda, pemanah andalan kita yang lahir di Surabaya 16 Maret 1997, memang bukan nama baru. Sejak 2013 ia membela merah-putih, dan namunya sudah melekat dengan torehan sejarah. Di nomor recurve, dialah yang pertama kali membawa panahan Indonesia melaju ke babak perempat final Olimpiade. Itu terjadi di Tokyo 2020, lalu diulanginya lagi di Paris 2024. Sejak format single elimination diterapkan, belum ada yang sanggup menyamai catatannya.
Jejaknya di kancah regional juga gemilang. Debutnya di SEA Games 2013 langsung diwarnai emas. Kini, tahun 2025, ia masih di puncak. Medali dari berbagai edisi SEA Games sudah menumpuk di lemariinya.
Pencapaian lain? Tentu ada. Di Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, ia membawa pulang perak. Lalu di Kejuaraan Dunia 2025 di Gwangju, Korea Selatan, performanya tetap kompetitif dan menempatkannya di posisi finis yang terhormat.
Di luar lapangan, Diananda adalah lulusan Universitas Airlangga (UNAIR). Sebuah keseimbangan yang jarang: atlet elit sekaligus akademisi.
Kisahnya di Bangkok mungkin akan dikenang lama. Bukan cuma soal angka di papan skor, tapi tentang tekad yang tak tergoyahkan. Tentang seorang atlet dan calang ibu yang memilih untuk tetap bertanding, dan menang.
Artikel Terkait
Truk Tangki Modifikasi Muat 5 Ton Solar Terguling, Puluhan Kecelakaan Beruntun di Bangkalan
Polisi Bongkar Judi Online Skala Besar di Batam, Dua Tersangka Kelola Lebih dari 200 Ribu Akun
Penundaan 11 Jam Sriwijaya Air SJ-581, Penumpang Mengeluhkan Minimnya Kompensasi dan Komunikasi
PSM Makassar Kalahkan Bhayangkara 2-1, Modal Penting Jauhi Zona Degradasi Liga 1