Menurut Prabowo, masalah utamanya bukan pada pertumbuhan, melainkan pada bagaimana hasilnya dibagi. "Potensinya luar biasa, ya. Tapi kita masih terkendala soal pemerataan. Tata kelola pemerintahan dan manajemen kita sebagai bangsa ini yang harus terus kita benahi," ujarnya.
Di sisi lain, ia mengakui sebuah ironi. Indonesia dikaruniai kekayaan alam dan potensi yang sangat besar. Namun, kemampuan untuk mengelola dan menjaga semua itu agar optimal bagi kesejahteraan bersama, rupanya masih perlu banyak peningkatan.
"Kita makin sadar betapa kayanya negeri ini. Tapi ya itu, kita juga harus jujur mengakui bahwa kita belum sepenuhnya andal dan cakap dalam mengelolanya," pungkas Prabowo, menutup pernyataannya.
Pertemuan itu pun berakhir, meninggalkan sebuah refleksi. Di balik optimisme menuju ekonomi raksasa dunia, pekerjaan rumah tentang keadilan masih menunggu untuk diselesaikan.
Artikel Terkait
Real Madrid Hancurkan Manchester City, VinÃcius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral
Panen Raya Majalengka Capai 11,5 Ton per Hektare, Stok Beras Nasional Dipastikan Surplus
Dua Turis Asing Pembuat Konten Porno Viral Berjaket Ojol Digagalkan Kabur di Bandara Bali