Menurut Prabowo, masalah utamanya bukan pada pertumbuhan, melainkan pada bagaimana hasilnya dibagi. "Potensinya luar biasa, ya. Tapi kita masih terkendala soal pemerataan. Tata kelola pemerintahan dan manajemen kita sebagai bangsa ini yang harus terus kita benahi," ujarnya.
Di sisi lain, ia mengakui sebuah ironi. Indonesia dikaruniai kekayaan alam dan potensi yang sangat besar. Namun, kemampuan untuk mengelola dan menjaga semua itu agar optimal bagi kesejahteraan bersama, rupanya masih perlu banyak peningkatan.
"Kita makin sadar betapa kayanya negeri ini. Tapi ya itu, kita juga harus jujur mengakui bahwa kita belum sepenuhnya andal dan cakap dalam mengelolanya," pungkas Prabowo, menutup pernyataannya.
Pertemuan itu pun berakhir, meninggalkan sebuah refleksi. Di balik optimisme menuju ekonomi raksasa dunia, pekerjaan rumah tentang keadilan masih menunggu untuk diselesaikan.
Artikel Terkait
Malam Haru di Cilandak, Sjafrie Sjamsoeddin Berduka untuk Sahabat Seangkatan
Bercak Darah di Kamar Lula Lahfah Diduga Darah Menstruasi
Anies Resmikan Jembatan Gantung, Jawab Penantian Warga Karanganyar Tiga Dekade
Lantai Kayu Tua Ambruk, Rombongan SD Terjatuh 4 Meter di Tangsi Belanda