Fitri sendiri merasa sangat bersyukur. Selama ini, ia harus tinggal di rumah yang sangat sederhana. Dindingnya lapuk, atapnya bocor jika hujan turun. Rumah itu adalah satu-satunya tempat berlindungnya.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan berterimakasih,” ucap Fitri dengan polos.
Ia berharap pembangunan cepat selesai. Pasalnya, Fitri sudah tiga tahun hidup sendiri setelah nenek yang mengasuhnya meninggal. Orang tuanya? Tak pernah diketahui kabarnya sejak ia masih kecil.
Sejak ditinggal nenek, remaja ini berjuang sendiri. Untuk bertahan hidup, ia bekerja sebagai pembungkus roti dengan upah Rp 20 ribu per hari. Kadang, ia juga mendapat upah Rp 7 ribu sampai Rp 10 ribu dengan cara membantu tetangga membeli bumbu.
Meski hidup serba kekurangan, Fitri punya tekad kuat. Banyak pihak yang menawarkan bantuan, bahkan mengajaknya tinggal di panti asuhan. Tapi ia menolak. Fitri memilih bertahan di rumah lamanya, di desa tempat ia dibesarkan.
Kini, dengan rumah yang sedang dibangun ulang, setidaknya ada secercah harapan baru untuk masa depannya.
Artikel Terkait
Sporting CP Balas Kekalahan 0-3 dengan Kemenangan Telak 5-0 ke Perempat Final Liga Champions
Fenerbahce Hajar Gaziantep 4-1, Kokohkan Posisi Puncak Klasemen
Jadwal Imsak Jogja Hari Ini Pukul 04.18 WIB, Disusul Azan Subuh 10 Menit Kemudian
Chelsea Terancam Tersingkir, Wajib Menang Besar atas PSG di Liga Champions