Di lapangan, sikap serikat pekerja cukup tegas. SEKAR Telkom, misalnya, menyatakan penolakan terhadap rencana pengalihan aset dan pembentukan strategic holding jika tidak dibarengi perbaikan tata kelola yang fundamental. Mereka berjanji akan mengawal proses ini agar tetap mengutamakan kepentingan nasional dan perlindungan pekerja.
Presiden ASPIRASI, Mirah Sumirat, SE, juga tak kalah vokal. Ia memperingatkan bahwa restrukturisasi jangan sampai jadi cara terselubung untuk menurunkan perlindungan. Menurut catatan mereka, risiko yang biasa muncul itu nyata: perubahan status kerja yang tiba-tiba, karier yang jadi tak menentu, hingga kesenjangan kesejahteraan antara karyawan induk dan anak perusahaan.
Maka, ASPIRASI pun menyodorkan lima tuntutan konkret ke manajemen Telkom Group. Poin utamanya meliputi jaminan tertulis soal tidak adanya PHK sepihak, kesetaraan perlindungan untuk semua pekerja, dialog sosial yang transparan sejak dini, program peningkatan keterampilan yang nyata, dan kehadiran negara yang aktif sebagai pemegang saham.
Intinya, ASPIRASI siap berdialog. Tapi mereka juga akan mengawal proses ini dengan ketat. Tujuannya satu: agar transformasi Telkom Group berjalan adil, inklusif, dan tetap menghormati martabat setiap orang yang bekerja di dalamnya.
Seperti ditegaskan Mirah Sumirat di akhir pernyataannya,
(YS)
Artikel Terkait
Mabes TNI Mutasi 35 Perwira, Brigjen Tagor Rio Pasaribu Jadi Aster Kaskogabwilhan II
Jadwal Imsak dan Salat di Surabaya 17 Maret 2026 Pukul 04.09 WIB
PSM Makassar Terancam di Papan Tengah Klasemen Liga 1 2025/2026
Polisi Berlutut di Jalan, Redam Konflik Massa di Manggarai