Saat api mulai membesar, Par sebenarnya sedang bersiap tidur setelah berjaga semalaman. Daripada mempertaruhkan nyawa, ia memilih menyelamatkan diri dan anaknya. Harta? Bisa dicari lagi.
"Kalau badan kan yang penting kita selamat sehat, kalau harta kan bisa dicari,"
katanya, mencoba tegar.
"Langsung merata (apinya), artinya saya mau nyelametin anak saya 'udah bu udah keluar' anak saya aja kena api nyelametin motor,"
ceritanya lagi, menggambarkan situasi kacau yang hampir merenggut anaknya.
Kini, setelah badai api reda, yang tersisa adalah ketidakpastian. Par dan anaknya selamat, tapi masa depan mereka suram. Satu-satunya harapan kini ia letakkan pada bantuan dari pemerintah.
"Harapan saya, ya kalau bisa dibantu ama pemerintah atau pasar kan gitu karena ya abis semua,"
harapnya.
"Bantuannya pengin saya ya pemerintah kasihan sama pedagang karena baru mau merintis begini. Kemarin ada peninjauan digusur gak boleh jualan di bawah, giliran baru mau jalan jualan ada musibah,"
keluhnya, menceritakan rentetan nasib sial yang ia alami. Sebuah harapan sederhana di tengah puing-puing yang masih hangus.
Artikel Terkait
Panen Raya Majalengka Capai 11,5 Ton per Hektare, Stok Beras Nasional Dipastikan Surplus
Dua Turis Asing Pembuat Konten Porno Viral Berjaket Ojol Digagalkan Kabur di Bandara Bali
Dua Pemudik Motor Terluka dalam Kecelakaan di Jalur Padat Cirebon
Polisi Ungkap Jaringan Konten Dewasa WNA di Bali, Pelaku Pakai Jaket Ojol untuk Viral