Ia menambahkan, kerja para relawan muda di lapangan ini menunjukkan peran strategis pemuda dalam aksi kemanusiaan.
“Karang Taruna hadir sebagai kekuatan sosial di akar rumput. Para relawan bergerak cepat, bekerja bersama masyarakat, dan menjadi bagian dari proses pemulihan,” tambahnya.
Narasi dari lapangan datang dari Rizal Hasibuan, salah seorang relawan. Ia melihat sendiri perubahan pada anak-anak.
“Di hari pertama, banyak anak yang masih diam dan terlihat takut. Tapi setelah diajak bermain dan bercerita, mereka mulai berani tertawa dan berinteraksi lagi. Itu tanda pemulihan mulai berjalan,” ujar Rizal.
Semua kegiatan di posko ini dijalankan dengan prinsip utama: ramah anak, tanpa paksaan, dan menciptakan rasa aman. Kolaborasi antara pengurus nasional, Karang Taruna lokal Tapanuli Selatan, dan warga Desa Pengkolan sendiri menjadi kunci keberhasilannya.
Tak heran, pemerintah desa dan masyarakat menyambutnya dengan hangat. Mereka melihat program ini benar-benar membantu. Anak-anak jadi tidak larut dalam ketakutan, dan perlahan bisa kembali ke rutinitas sehari-hari dengan semangat yang lebih ceria.
Ke depannya, Posko Ceria ini rencananya akan terus beroperasi selama masa pemulihan berlangsung. Bahkan, program ini diharapkan bisa jadi semacam model. Model pendampingan psikososial yang mungkin bisa diterapkan juga di daerah-daerah lain di Sumatera yang terdampak bencana.
Artikel Terkait
Polisi Berlutut di Jalan, Redam Konflik Massa di Manggarai
Bayern Krisis Kiper, Remaja 16 Tahun Bersiap Jaga Gawang Lawan Atalanta
Keluarga Pemudik Terdampar di Bahu Tol Semarang-Solo Usai Salah Naik Bus
Pemerintah Gelar Sidang Isbat Awal Syawal 1447 H pada 19 Maret 2026