Kebakaran Terra Drone: Api yang Membakar Jejak, Mengamankan Lahan?

- Senin, 15 Desember 2025 | 05:00 WIB
Kebakaran Terra Drone: Api yang Membakar Jejak, Mengamankan Lahan?

Kebakaran ini terjadi di waktu yang pas. Negara sedang gencar mengaudit sekitar 6,4 juta hektare sawit bermasalah. Data dibuka, batas ditelusuri. Di tengah situasi sepanas itu, pusat data salah satu pemegang informasi paling presisi malah hangus terbakar.

Kita nggak perlu buru-buru menuduh. Dalam pakem kriminal, pertanyaan pertama selalu soal motif. Lalu pertanyaan sederhana: siapa yang diuntungkan?

Bagi perusahaan sawit yang lahannya tumpang tindih dengan hutan, audit jadi kabur kalau data presisinya lenyap. Bagi mafia tanah di proyek strategis, jejak transaksi makin sulit dibuktikan. Bagi spekulan, batas bisa digambar ulang dengan alasan data lama tidak akurat. Hilangnya data mengubah segalanya, terutama posisi tawar di meja hukum.

Ironisnya, korban terbesar justru manusia biasa, para karyawan. Sementara bagi korporasi, bangunan bisa dibangun ulang. Server bisa dipulihkan. Yang nggak tergantikan itu arsip lokal: hard drive cadangan, log penerbangan drone, catatan manual perubahan koordinat. Itu semua adalah bukti primer yang paling dibutuhkan untuk membongkar manipulasi lahan.

Modus yang Selalu Jitu: Api

Di sinilah publik harus waspada. Sejarah Indonesia mencatat, kebakaran sering jadi metode penghilangan jejak yang ampuh. Kita masih ingat kebakaran Gedung Bank Indonesia di awal 2000-an, saat skandal BLBI sedang dikuliti. Lalu ada kebakaran Gedung Kejaksaan Agung pada 2020, yang konon penyebabnya cuma puntung rokok. Saat itu, Kejagung sedang menangani kasus korupsi besar. Jauh sebelumnya, arsip pertanahan dan kantor pemda berulang kali terbakar tepat ketika sengketa tanah memanas.

Apakah ini semua kebetulan? Disengaja? Nggak usah buru-buru disimpulkan. Tapi polanya konsisten. Ketika bukti sangat dibutuhkan, api datang. Membakar habis. Setelah itu, kita diminta percaya bahwa semuanya adalah kecelakaan.

Masih banyak pertanyaan yang mesti dijawab. Kenapa fasilitas sepenting itu ada di ruko padat tanpa sistem keselamatan memadai? Kenapa nggak ada transparansi soal data apa saja yang hilang? Dan yang bikin penasaran, kenapa banyak klien besar justru memilih bungkam?

Kebakaran Terra Drone bukan cuma tragedi kemanusiaan. Bisa jadi ini adalah bagian dari perang data yang tak kasat mata. Di dunia modern, siapa kuasai peta, dia kuasai lahan. Siapa kuasai lahan, pegang kendali ekonomi. Dan siapa kuasai ekonomi, bisa pengaruhi kebijakan. Relasi ini di Indonesia terlihat begitu telanjang.

Api di Cempaka Putih memang sudah padam. Duka masih menyelimuti keluarga korban. Nyawa tak bisa kembali. Tapi sejarah mengajarkan satu hal yang pahit: dalam banyak kasus besar, api bukan akhir cerita. Ia justru sering menjadi awal dari lenyapnya jejak kejahatan. []

Jakarta, 14 Desember 2025

Editor: Bayu Santoso


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar