Fadli Zon Luncurkan 10 Jilid Sejarah Indonesia, Revisi Mitos 350 Tahun Penjajahan

- Minggu, 14 Desember 2025 | 19:48 WIB
Fadli Zon Luncurkan 10 Jilid Sejarah Indonesia, Revisi Mitos 350 Tahun Penjajahan

Di Kantor Kementerian Kebudayaan Jakarta, Minggu (14/12) lalu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon secara resmi meluncurkan sebuah karya besar: sepuluh jilid buku sejarah Indonesia yang ditulis ulang. Proyek ambisius ini melibatkan tak kurang dari 123 sejarawan yang berasal dari 34 perguruan tinggi berbeda.

Menurut Fadli, penulisan ulang ini penting untuk merevisi beberapa narasi sejarah yang selama ini dianggapnya keliru. Salah satu contoh yang ia sebut adalah anggapan umum bahwa Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun penuh.

"Dan kalau tidak salah juga selama ini kita diwarisi oleh satu pemikiran yang mungkin ketika itu konteksnya dapat untuk memupuk kesadaran nasional kita, bahwa kita ini dijajah 350 tahun," ujar Fadli Zon dalam kesempatan itu.

"Saya kira ini juga perlu direvisi, dan saya kira itu termasuk yang kita revisi, kalau tidak salah dari para sejarawan," imbuhnya.

Nah, perspektif kolonial itulah yang coba diubah dalam seri buku baru ini. Kali ini, sudut pandangnya murni dari sisi Indonesia. Alih-alih fokus pada penjajah, buku-buku ini justru mengedepankan cerita perlawanan dari berbagai daerah.

“Yang kita tonjolkan adalah bagaimana perlawanan-perlawanan yang ada di daerah, baik itu terhadap Belanda, terhadap Inggris, terhadap Daendels ketika itu di era Napoleon, dan juga terhadap Jepang,” jelasnya.

Dari situlah kemudian muncul penjelasan yang lebih beragam. Fadli menegaskan, durasi penjajahan ternyata tidak seragam untuk seluruh Nusantara.

“Jadi kita tidak dijajah 350 tahun. Tetapi perlawanan-perlawanan itu, ada yang dijajah mungkin 40 tahun, ada yang 10 tahun, ada yang tidak dijajah sama sekali, ada yang mungkin 100-200 tahun dan seterusnya,” pungkasnya.

Sepuluh jilid buku yang diluncurkan itu membawa judul utama "Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global". Isinya dibagi berdasarkan periode, dimulai dari akar peradaban Nusantara hingga era reformasi.

Berikut rincian lengkapnya:

Jilid 1 mengupas Akar Peradaban Nusantara. Lalu, Jilid 2 dan 3 membahas Nusantara dalam Jaringan Global, khususnya perjumpaan dengan India, Tiongkok, dan Persia.

Interaksi awal dengan bangsa Barat lewat kompetisi dan aliansi dibahas di Jilid 4. Sementara Jilid 5 mengisahkan terbentuknya negara kolonial.

Jilid 6 fokus pada Pergerakan Kebangsaan, dilanjutkan Jilid 7 tentang Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan (1945-1950).

Konsolidasi negara bangsa pasca kemerdekaan, lengkap dengan konflik dan peran internasionalnya (1950-1965), diuraikan dalam Jilid 8.

Jilid 9 mengangkat Pembangunan dan Stabilitas Nasional di Era Orde Baru (1967-1998). Terakhir, Jilid 10 mengantar pembaca menyusuri gelombang Reformasi dan Konsolidasi Demokrasi dari 1998 hingga 2024.

Peluncuran ini, tampaknya, bukan yang terakhir. Kedepan, masih akan ada sejumlah buku sejarah lain yang terbit sebagai bagian dari proyek penulisan ulang ini.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar