Atau, dokter asing yang bantu obati korban lantas dibilang ancaman buat kedaulatan? Ini mah ketakutan yang nggak pada tempatnya.
Ketakutan itu nggak sebanding dengan realita yang terjadi di lapangan. Sementara sebagian orang sibuk membayangkan skenario geopolitik yang ruwet, di lokasi bencana, korban berteriak minta pertolongan.
Wilayah terisolasi. Korban bertahan cuma dengan air hujan. Bantuan terpaksa diseret pakai rakit darurat karena helikopter saja tak cukup. Di titik itu, jelas terlihat masalah utamanya bukan ancaman dari luar negeri.
Masalah terbesarnya justru kapasitas kita yang kewalahan menghadapi bencana sebesar ini. Daerah nggak sanggup menanggung sendirian.
Negeri besar saja nggak malu minta bantuan. Jepang terima bantuan internasional saat Fukushima. Turki dibantu puluhan negara waktu gempa 2023 lalu. Bahkan Amerika, saat dihajar badai Katrina, terima bantuan dari 90 negara lebih.
Apakah kedaulatan mereka lantas melemah? Enggak. Soalnya kedaulatan itu nggak ditentukan oleh siapa yang menolong, tapi siapa yang pegang kendali.
Prinsip yang sama berlaku buat Indonesia. Selama izin, mekanisme, dan komando tetap di tangan kita, kedaulatan nggak bakal bergeser sedikitpun.
Di tengah tangisan korban yang terisolasi, di depan mata nenek-nenek yang terhuyung antri makanan, di antara relawan yang kelelahan, dan di daerah yang terputus dari dunia luar rasanya terlalu kejam kalau kita malah sibuk memikirkan skenario fiktif soal kedaulatan yang diganggu.
(Nur Fitriyah As’ad)
Artikel Terkait
Kendali Trump Tergelincir, Netanyahu Diduga Kendalikan Gedung Putih Lewat DOJ
Balochistan Berdarah Lagi: 47 Tewas dalam Serangan Terkoordinasi
Prabowo Gelar Pertemuan Tertutup dengan Tokoh Oposisi
Di Balik Rerimbunan Srengseng, Babeh Icam Bertahan Setia Meski Demam Akik Sudah Redup