Dengan gerakan yang telaten, Julia mengoleskan minyak zaitun ke telapak tangannya. Minyak itu berfungsi sebagai pelicin, memudahkan jari-jemarinya yang halus untuk mulai bekerja memijat tubuh pelanggan. Ia mulai dari telapak kaki, lalu naik perlahan ke badan dan kepala. Ruangan pun dipenuhi aroma melati dari essential oil-nya, menambah rasa rileks dan nyaman.
Itulah rutinitas Julia, seorang perempuan Gen Z berusia 25 tahun yang kini berprofesi sebagai tukang pijat. Profesi ini baru ia geluti sekitar dua bulan terakhir.
"Aku pijit dari bulan Oktober, sampai sekarang 2 bulanan ya,"
kata Julia, ditemui di kediamannya pada suatu Jumat siang.
Menurut ceritanya, bakat memijat ini baru ia sadari saat masih mondok di sebuah pesantren di Cililin. Waktu itu, istri sang kiai yang biasa dipanggil Bi Nyai memintanya untuk memijat.
"Dulu teh kan saya pesantren di daerah Cililin, Cijenuk. Nah terus kemudian Bi Nyai nyuruh saya buat pijit. Nah dari situ mulai sering pijit,"
ujar Julia mengenang.
Dari Host Live Streaming ke Pencarian Jati Diri
Setelah lulus, hidup Julia tak langsung mulus. Orang tuanya berpisah sejak ia masih bayi, 13 bulan, sehingga ia pun tinggal bersama tantenya. Sebelum menemukan panggilan sebagai tukang pijat, ia sempat mencicipi dunia kerja yang berbeda: menjadi host live streaming untuk sebuah akun niaga online.
Kerja itu melelahkan. Delapan jam sehari, namun upahnya hanya Rp 60.000.
"Pesantren teh dari mulai 1 SD sampai SMA. Kemudian di 2020 aku pindah ke Cihampelas ikut sama tante sama om. Nah di Cihampelas aku enggak kerja mijit, soalnya jadi host live,"
ucap dia.
Keadaan berubah lagi di pertengahan 2025. Julia pindah ke rumah bibinya di Cimahi, yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri. Di kota baru ini, kebingungan menghampiri. Ia sempat melamar kerja ke pabrik, tapi selalu gagal. Penyakit asma yang ia derita menjadi penghalang besar untuk bekerja di tempat berdebu atau ber-AC.
"Aku punya riwayat asma, jadi gak cocok kerja di pabrik, nggak cocok kerja ber AC,"
katanya.
"Bingung di situ teh aku cari kerja apa,"
keluhnya.
Ide Sederhana yang Ternyata Viral
Di tengah kebuntuan itu, ia teringat pada kemampuannya memijat. Awalnya, rencananya sederhana: mencetak selebaran dan membagikannya ke tetangga. Tapi, untuk mencetak pun ia tak punya uang. Akhirnya, dengan nekat, ia meminta tolong seorang tetangga untuk mengiklankan jasanya lewat status WhatsApp.
Dan itu bekerja. Pelanggan pertama pun datang dari Rancabentang.
"Aku minta tolong ke si ibunya 'Bu tolong dong aku bisa pijit nih, tolong dong iklanin aku di WA-nya'. Terus ada WA masuk orang Rancabentang. Itu customer pertama,"
ungkap Julia.
Lalu, ia iseng mencoba peruntungan di TikTok. Hasilnya di luar dugaan. Unggahannya langsung ramai diperbincangkan. Pesan masuk membanjir, bahkan bisa mencapai lebih dari seratus dalam sehari. Pengikutnya yang awalnya cuma 200-an, melonjak drastis hingga menyentuh angka ribuan.
"Buka tiktok lagi, wah iya ternyata makin naik followers-nya,"
kata Julia dengan nada masih tak percaya.
Penghasilan yang Tak Terduga dan Pesan untuk Anak Muda
Dulu, Julia punya banyak cita-cita: jadi koki, fotografer, atau bidan. Tapi restu orang tua tak kunjung datang. Kini, dari pijatan tangannya, ia justru menemukan jalan hidup. Dalam sehari, ia bisa memijat 5 sampai 6 orang klien, dengan tarif Rp 100.000 per jam. Ia hanya melayani perempuan, dan terkadang dapat panggilan untuk memijat bayi.
"Sehari paling banyak 5 atau 6 orang,"
katanya.
Jika dihitung, penghasilan kotornya bisa mencapai Rp 10 juta sebulan. Uang itu ia pakai untuk hidup sehari-hari, membantu orang tua, dan tentu saja, ditabung untuk masa depan.
"Mungkin kurang lebih Rp 10 juta sebulan,"
ungkap Julia.
"Aku lebih ngasih ke orang tua, terus ditabung beli keperluan aku, terus buat makan juga,"
lanjutnya.
Pengalamannya berliku ini memberinya pesan berharga untuk generasi muda. Baginya, gengsi harus disingkirkan. Yang penting halal dan bisa memenuhi kebutuhan.
"Jangan gengsi pokoknya selagi itu halal, selagi pekerjaan itu halal, terus bisa menuhi kebutuhan kita sehari-hari, gas terus aja. Jangan menyerah, kalau capek istirahat dulu, nanti mulai lagi,"
pesan Julia penuh semangat.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu