Sampai kapan kita akan bangga dengan peran seperti ini? Bangga menjadi pemasok bahan mentah dalam sebuah drama energi global, di mana skenarionya ditulis Jepang, modalnya diatur China, dan panggung pertunjukannya disewa di Indonesia? Kapan kita akan berhenti puas dengan gelar "negara tambang plus pabrik murah", sambil terus meyakinkan diri bahwa ini adalah bentuk kedaulatan?
Seorang ahli pernah bilang, "Negara maju mengekspor teknologi. Negara berkembang mengekspor tanahnya."
Kita? Tampaknya mengekspor keduanya: tanah dan ilusi.
Jadi, kalau ada yang bertanya mengapa nasionalisme ekonomi kita terasa seperti rumah panggung tanpa fondasi, jawabnya mungkin sederhana. Kita terlalu cepat bangga, dan terlalu lambat membaca situasi. Sementara kita sibuk merayakan hilirisasi di spanduk dan konferensi pers, Jepang dengan tenang menghitung laba. Mereka tak perlu berteriak. Yang perlu berteriak dan bicara keras, biasanya adalah pihak yang masih berusaha keras terlihat berdaulat.
Ringkasnya begini: Indonesia dapat nama dan kebanggaan. Jepang dapat bahan baku murah untuk industri bernilai tambah tinggi di negerinya. China dapat produksi dan laba di sepanjang rantai pasok. Dan oligarki? Mereka dapat izin dan fee.
Lalu sisanya?
Rakyat dapat debu nikel dan warisan kerusakan ekologi yang akan dipikul anak-cucu. Welcome to hilirisasi, versi republik tropis. Di sini, yang bekerja keras adalah bumi. Yang menjadi kaya adalah korporasi. Dan yang paling bangga adalah para pejabat.
Sedangkan yang menanggung semua konsekuensinya, ya, mereka yang paling tak punya pilihan.
(Erizeli Jely Bandaro)
Artikel Terkait
Guru 2026: Masihkah Ada Ruang untuk Wibawa di Tengah Transaksi Pendidikan?
Kasus Hogi Minaya Resmi Ditutup, Penuntutan Dihentikan Demi Hukum
Jokowi Santai Menanggapi Nama yang Selalu Terseret Kasus Bawahan
Tabung Pink di Apartemen Lula: Titik Buntu dan Jejak yang Tersisa