Luka robek di kepala dan gigi yang patah mungkin bisa sembuh. Tapi trauma akibat dikeroyok oleh orang yang dikenal, di tempat yang seharusnya aman, itu yang sulit dihapus.
Di sisi lain, kejadian ini seolah jadi pengingat pahit bagi warga sekitar. Kawasan permukiman padat seperti ini rawan dengan konflik yang dipicu hal sepele. Yang mengkhawatirkan, tensinya kini mudah sekali meledak jadi kekerasan fisik.
Suasana keresahan pun terasa. Seorang warga yang enggan namanya disebutkan mengaku was-was.
"Masalah kecil bisa langsung jadi besar, berakhir rusuh. Kami khawatir ini akan terulang lagi," katanya.
Menanggapi laporan ini, pihak kepolisian telah mengambil alih. Ipda Erwin, Panit SPKT Polrestabes Palembang, membenarkan bahwa kasusnya sedang dalam proses.
"Laporan sudah kami terima dan kami teruskan ke Satreskrim untuk ditindaklanjuti," jelas Erwin singkat.
Insiden di Plaju Darat ini meninggalkan pertanyaan besar. Sampai kapan tetangga yang seharusnya hidup berdampingan, justru saling menyakiti hanya karena sebuah buah mangga?
Artikel Terkait
Real Madrid Hancurkan Manchester City, VinÃcius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral
Panen Raya Majalengka Capai 11,5 Ton per Hektare, Stok Beras Nasional Dipastikan Surplus
Dua Turis Asing Pembuat Konten Porno Viral Berjaket Ojol Digagalkan Kabur di Bandara Bali