Luka robek di kepala dan gigi yang patah mungkin bisa sembuh. Tapi trauma akibat dikeroyok oleh orang yang dikenal, di tempat yang seharusnya aman, itu yang sulit dihapus.
Di sisi lain, kejadian ini seolah jadi pengingat pahit bagi warga sekitar. Kawasan permukiman padat seperti ini rawan dengan konflik yang dipicu hal sepele. Yang mengkhawatirkan, tensinya kini mudah sekali meledak jadi kekerasan fisik.
Suasana keresahan pun terasa. Seorang warga yang enggan namanya disebutkan mengaku was-was.
"Masalah kecil bisa langsung jadi besar, berakhir rusuh. Kami khawatir ini akan terulang lagi," katanya.
Menanggapi laporan ini, pihak kepolisian telah mengambil alih. Ipda Erwin, Panit SPKT Polrestabes Palembang, membenarkan bahwa kasusnya sedang dalam proses.
"Laporan sudah kami terima dan kami teruskan ke Satreskrim untuk ditindaklanjuti," jelas Erwin singkat.
Insiden di Plaju Darat ini meninggalkan pertanyaan besar. Sampai kapan tetangga yang seharusnya hidup berdampingan, justru saling menyakiti hanya karena sebuah buah mangga?
Artikel Terkait
Menerima Diri di Awal Tahun: Antara New Me dan Kelelahan yang Tak Terucap
Beijing Hukum Mati Bos Mafia Myanmar, Sinyal Keras untuk Pelaku Penipuan Lintas Batas
AS Cabut Staf Non-Darurat dari Niger Usai Serangan ISIS di Bandara Niamey
Siklus Keracunan MBG: Klarifikasi, Maaf, dan Janji yang Tak Pernah Tuntas