Jadi, kuncinya apa? Kesadaran diri dan tujuan. Kalau ingin membangun reputasi kuat, pahami dulu apa yang ingin diwakili. Ingin dikenal sebagai pribadi yang tulus, profesional, atau kreatif? Semua itu tak akan terbentuk lewat konten sensasional. Butuh konsistensi nilai. Kalau ingin dihargai, tampilkan hal-hal yang menunjukkan kualitas itu. Bukan sekadar yang memancing reaksi.
Selain itu, pahami juga dinamika audiens. Orang-orang sekarang cepat menangkap pola. Kalau seseorang terus-menerus menampilkan drama, audiens mungkin merasa dirinya dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Begitu persepsi ini melekat, sulit diubah. Reputasi memang mudah rusak. Cukup satu dua tindakan impulsif di dunia maya untuk menciptakan kesan yang menyimpang dari niat sebenarnya.
Pada akhirnya, media sosial bukan musuh. Ia hanya alat. Bagaimana kita menggunakannya yang akan menentukan nasib reputasi kita. Tampil dengan cerdas berarti mengedepankan nilai, kualitas, dan keotentikan. Dengan begitu, reputasi yang terbangun akan bertahan lebih lama daripada sensasi yang cepat pudar. Ingat, ini bukan soal seberapa sering kita terlihat. Tapi tentang apa yang terlihat, dan bagaimana hal itu mencerminkan diri kita yang sebenarnya.
Aendra MEDITA, Analis di Pusat Kajian Komunikasi Politik Indonesia (PKKPI) & Jala Bhumi Kultura (JBK)
Desember 2025
Artikel Terkait
MUI Kritik Keterlibatan Indonesia dalam Dewan Perdamaian Gaza ala Trump
Trump dan Dewan Perdamaian: Ambisi Pribadi atau Ancaman bagi Tata Dunia?
Sugiono Tegaskan Netralitas Indonesia di Tengah Isu Aneksasi Greenland
Tanah Longsor Dini Hari di Bandung Barat Tewaskan Delapan Jiwa, 82 Orang Masih Dicari