Gelap Gulita Masih Selimuti Aceh Tamiang
Sudah dua pekan berlalu, tapi suasana malam di sejumlah wilayah Kabupaten Aceh Tamiang masih gelap pekat. Kota Kuala Simpang, misalnya, hingga Selasa (9/12) malam kemarin belum sepenuhnya terang. Pasca banjir bandang dan tanah longsor, pemulihan listrik ternyata tak semudah yang dibayangkan.
Warga pun terpaksa beradaptasi. Hidup dalam kegelapan bukan hal yang mudah. Untuk sekadar beraktivitas di luar rumah, beberapa orang mengandalkan senter atau bahkan lampu kilat dari kamera ponsel mereka. Di sekitar tenda-tenda darurat, cahaya api unggun jadi andalan untuk menerangi malam.
Jalanan kota juga tak kalah suram. Minimnya penerangan jalan karena jaringan listrik yang masih mati membuat suasana makin muram. Kendaraan yang lalu-lalang terpaksa mengandalkan sorot lampu mobil atau motor, jadi satu-satunya sumber cahaya yang menerangi aspal.
Kondisi ini tentu saja menambah berat beban warga. Setelah rumah dan harta benda porak-poranda, kini mereka harus bertahan tanpa listrik yang merupakan kebutuhan dasar. Kapan situasi ini berakhir? Pertanyaan itu masih menggantung, sama gelapnya dengan malam-malam di Aceh Tamiang saat ini.
Artikel Terkait
Jokowi Pasang Kuda-kuda, Prabowo-Gibran Dua Periode Jadi Target Ketiga
Jalan Lintas Aceh Tengah–Bener Meriah Amblas, Tanah Bergerak Sejak 2002
Hujan Deras di Jakarta, Tiga Rute Transjakarta Dialihkan Akibat Genangan
Ribuan Nahdliyin Padati Istora, Rayakan Seabad NU dengan Semangat Merawat Peradaban