Pria ini juga tak lupa menempatkan diri dalam tradisi keilmuan NU. Dengan rendah hati, dia menyebut dirinya hanyalah seorang santri. Santri dari Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, juga santri Syuriyah PBNU, dan tentu saja santri dari banyak kiai pesantren besar.
"Saya bukan siapa-siapa," ujarnya merendah.
Namun begitu, penunjukannya di forum pleno ini diharapkan jadi penanda berakhirnya ketidakpastian. "Kita lihat di sini hadir semua tokoh-tokoh besar," katanya, menunjuk pada harapan rekonsiliasi. Dia berjanji akan menjalankan mandat itu dengan penuh integritas dan kesantunan sebagai seorang santri.
Lalu, untuk mempertegas jejaring intelektual dan kekeluargaannya, Zulfa menyebut satu nama penting. Dia adalah keponakan dari Wakil Presiden RI, KH Ma'ruf Amin.
"Tidak perlu disebut, saya pasti bukan cuma santri, saya keponakan Kiai Haji Ma'ruf Amin," ungkapnya.
Dan yang tak kalah penting, "Ya, saya keponakan Kiai Haji Ma'ruf Amin, dan saya sudah minta restu beliau," pungkas Zulfa, menutup pernyataannya dengan sebuah penegasan tentang legitimasi dan doa yang menyertainya.
Artikel Terkait
Jokowi Pasang Kuda-kuda, Prabowo-Gibran Dua Periode Jadi Target Ketiga
Jalan Lintas Aceh Tengah–Bener Meriah Amblas, Tanah Bergerak Sejak 2002
Hujan Deras di Jakarta, Tiga Rute Transjakarta Dialihkan Akibat Genangan
Ribuan Nahdliyin Padati Istora, Rayakan Seabad NU dengan Semangat Merawat Peradaban