Aipda Yanrus Pake, Polisi yang Dirikan Panti Asuhan dan Sekolah Gratis di Sumba, Diusulkan Raih Hoegeng Awards

- Rabu, 18 Maret 2026 | 11:20 WIB
Aipda Yanrus Pake, Polisi yang Dirikan Panti Asuhan dan Sekolah Gratis di Sumba, Diusulkan Raih Hoegeng Awards

Di sebuah desa terpencil bernama Tana Mbanas, Sumba Tengah, seorang anggota polisi bernama Aipda Yanrus Pake dan istrinya, Christina Sihombing, membangun sesuatu yang lebih dari sekadar bangunan. Mereka mendirikan sebuah panti asuhan dan sekolah. Tujuannya sederhana namun mulia: membantu anak-anak di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) agar bisa mengenyam pendidikan layak.

Atas dedikasinya itu, nama Yanrus pun diusulkan untuk Hoegeng Awards 2026 oleh Yustina Denga, seorang pengajar di yayasannya.

“Bapak Yanrus Pake bersama istri mendirikan Yayasan Iman Pengharapan dan Kasih di desa Tana Mbanas. Tujuannya membantu anak-anak kurang mampu dan terlantar agar punya tempat tinggal yang nyaman,” tulis Yustina dalam usulannya.
“Mereka juga mendirikan sekolah dari TK sampai SMP. Semua fasilitas asrama dan pendidikan diberikan gratis. Bahkan, di sela-sela tugasnya sebagai polisi, Pak Yanrus aktif mengajarkan keterampilan seperti bertani dan berternak kepada anak-anak asuh.”

Ketika dikonfirmasi, Yustina yang dulunya juga anak asuh di yayasan itu menjelaskan lebih detail. Setelah lulus kuliah, dia memilih kembali untuk mengabdi.

“Yayasan kami bergerak di banyak bidang,” ujarnya. “Ada pendidikan TK, SD, SMP, panti asuhan, asrama. Kami juga buka taman baca dan pelayanan di desa-desa lain. Intinya, kami berusaha menjangkau apa yang bisa dijangkau.”

Hingga kini, sekitar 300 anak mendapat bantuan dari yayasan tersebut. Mayoritas adalah anak tidak mampu atau yang rumahnya jauh dari sekolah.

“Yang diterima di sini ya anak-anak yang benar-benar butuh. Ada juga sih satu dua orang tua yang meminta, tapi itu sangat sedikit,” jelas Yustina.

Menariknya, selain pelajaran formal, anak-anak juga diajari keterampilan hidup. Yanrus sendiri yang melatih.

“Pak Yanrus ngajarin mereka las dan bengkel. Bahkan anak yang punya keterbatasan pendengaran dan bicara sekarang sudah mahir las dan bisa mandiri. Untuk anak laki-laki, ada instalasi listrik,” ceritanya.

“Yang perempuan kami latih berkebun dan beternak ayam. Kami punya ayam petelur, pedaging, kampung, bahkan sapi. Ini penting, agar suatu hari nanti ketika mereka kembali ke orang tua, punya bekal untuk hidup.”

Soal pendanaan, operasional yayasan yang mencapai ratusan juta per bulan ditopang oleh donatur, usaha pribadi keluarga Yanrus, dan sedikit bantuan pemerintah daerah. “Satu hari saja kami bisa habiskan 450 kg beras,” ungkap Yustina.

Berawal dari Sebuah Sumur

Kisah pendirian yayasan ini berawal jauh sebelum Yanrus dan Christina menikah. Tahun 1999, Christina yang masih relawan bersama seorang warga Kanada yang dipanggil “Opa”, datang ke Tana Mbanas untuk membangun sumur bor. Desa itu sangat kesulitan air.

“Awalnya cuma mau dua tahun di sini,” kata Yanrus menirukan sang istri. Tapi Christina betah, malah jadi guru karena sekolah setempat kekurangan pengajar.

Pertemuan mereka terjadi tahun 2006, saat Yanrus ditugaskan di Polsek setempat. Dia tertarik dengan kegiatan belajar yang digagas Christina. Dari situ, mereka mulai bekerja sama menolong anak-anak kurang mampu.

“Kami belum menikah waktu itu. Tahun 2006 itu kami urus akta yayasannya, sekalian untuk panti asuhan,” kenang Yanrus.

Hubungan mereka pun berkembang dari pertemanan menjadi pernikahan di tahun 2013. Yayasan juga kian berkembang, dari sekadar PAUD akhirnya memiliki TK, SD, hingga SMP sendiri untuk mengakomodir anak-anak asuhnya.

Tantangan terbesar? Tentu saja pendanaan. “Tahun-tahun itu sulit sih,” akunya. “Tapi karena kami hidup di lingkungan yang sama dengan mereka, ya jalani saja apa adanya.”

Dukungan dari Seberang Lautan

Sejak awal, “Opa” dari Kanada menjadi penyokong utama. Dia menghubungkan yayasan dengan komunitas gereja di Kanada dan Belanda.

“Opa tinggal dengan kami sampai 2017 sebelum akhirnya meninggal. Tapi dukungan dari jaringan beliau terus mengalir,” ujar Yanrus.

Donatur dari sana bahkan kerap berkunjung. Bantuan terakhir di tahun 2025 adalah sebuah truk tangki air, solusi krusial untuk daerah yang selalu bermasalah dengan sumber air.

Kini, kompleks yayasan memiliki 15 bangunan campuran bangunan lama dan baru hasil bantuan pemerintah. Komunikasi dengan Pemda setempat, menurut Yanrus, cukup baik meski lokasi mereka sangat terpencil.

Gaji Polisi untuk Keluarga Besar

Bagi Yanrus, yayasan ini adalah hidupnya. Sebagian besar penghasilannya sebagai polisi dikembalikan untuk kebutuhan yayasan.

“Dari saya pribadi, ya apa yang ada itu yang dibagi. Tidak terhitung lagi jumlahnya,” katanya santai. “Semua anak-anak dan pengajar di sini adalah keluarga. Jadi rasanya bukan lagi mengeluarkan uang untuk orang lain.”

Untuk menopang kebutuhan, mereka juga menjalankan usaha toko kelontong. Toko itu sekaligus menjadi tempat magang bagi anak-anak yang sudah lulus SMA dan sedang menunggu kesempatan kuliah.

Belajar dari Tanah dan Ternak

Di lahan seluas hampir 3 hektare, anak-anak diajak langsung berinteraksi dengan alam. Mereka belajar beternak ayam, sapi, dan kambing.

“Ayam petelur kami pelihara sekitar 30 ekor, untuk konsumsi sekaligus bahan belajar. Kalau sapi dan kambing, itu seperti tabungan hidup. Kalau dijual, uangnya untuk kebutuhan mendesak yayasan,” jelas Yanrus.

Sebagian lahan adalah Hak Guna Usaha dari Pemda, sisanya dibeli perlahan-lahan dari warga sekitar.

Di balik semua kerja kerasnya, motivasi Yanrus tulus saja. Dia hanya ingin membantu. “Saya lihat kegiatan istri ini positif banget. Akhirnya, ya ikut terlibat. Sekarang rasanya sudah jadi satu keluarga besar. Tidak terpisahkan lagi.”

Dan dari desa terpencil di Sumba itu, keluarga besar itu terus menuliskan harapan, satu anak demi satu anak.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler