Lonjakan angka ini jelas merupakan tanda bahaya. Ia mengindikasikan tekanan psikologis ekstrem yang menghantam para tentara, berlangsung di tengah hujatan internasional terhadap cara Israel berperang. Singkatnya, perang ini tak hanya menghancurkan kehidupan warga Palestina, tetapi juga meretakkan jiwa-jiwa prajurit Israel dari dalam.
Titik Jenuh dan Barisan yang Menipis
Krisis kelelahan itu rupanya sudah sampai pada titik kritis. Laporan dari surat kabar Maariv pekan lalu menyebutkan, militer Israel sedang mengalami defisit besar: sekitar 12.000 personel. Rinciannya, 9.000 adalah prajurit tempur dan 3.000 personel pendukung.
Koresponden perang Avi Ashkenazi, yang menulis laporan itu, melukiskan kondisi yang suram.
“Setelah dua tahun dua bulan pertempuran sengit di tujuh front, tentara kelelahan; para perwira letih, dan prajurit bermimpi untuk pulang,” tulis Maariv.
Kalimat itu bukan hiperbola. Ia menggambarkan kondisi internal yang benar-benar rapuh setelah bertempur di begitu banyak front secara bersamaan.
Pada akhirnya, berita-berita ini menyajikan sebuah paradoks yang pahit. Di satu sisi, perang menimbulkan penderitaan yang tak terperi bagi warga Palestina. Di sisi lain, ia juga melumpuhkan fisik dan mental pasukan Israel sendiri. Situasi seperti ini semakin menguatkan seruan dari banyak pihak: kekerasan harus dihentikan. Sebuah penyelesaian damai bukan lagi sekadar pilihan, melainkan satu-satunya jalan untuk memutus siklus penderitaan yang terus berputar ini.
Artikel Terkait
Aktivis Muhammadiyah Serukan Prabowo Ganti Kapolri, Sebut Pernyataan Sampai Titik Darah Penghabisan Provokatif
Gelombang Klinik Halal: Saat Kecantikan Bertemu Keyakinan di Indonesia
Anggota Polisi Syariah di Aceh Merasakan Cambuk Pertama Kalinya
Jokowi Siap Bekerja Mati-Matian untuk PSI, Targetkan Struktur Lengkap Akhir 2026