Lumpur di rumah-rumah korban banjir belum juga kering. Bahkan, masih ada mayat yang belum ditemukan. Sementara itu, banyak orang masih berjuang mati-matian mencari bantuan untuk sekadar bertahan hidup.
Di tengah situasi seperti ini, Presiden malah memilih terbang ke Pakistan. Sungguh ironis, mengingat belum lama ini dia sempat menegur seorang Bupati yang pergi umroh saat bencana. Padahal, kalau dipikir-pikir, si Bupati itu pakai duit pribadi. Lha, kalau kunjungan kenegaraan ke Pakistan ini? Jelas menggunakan anggaran negara yang jumlahnya bisa mencapai belasan miliar rupiah.
Semuanya terjadi saat para korban banjir masih sangat menderita.
Memang begitulah potret negeri kita sekarang. Marwahnya seolah hilang begitu saja. Aturan untuk orang lain, tapi berbeda untuk yang di atas. Fenomena ini merata, dari warganet biasa sampai para pejabat tinggi. Dan yang paling menyedihkan, semuanya berjalan seperti biasa, seolah tak ada yang salah.
Ada yang berkilah, “Kan dia ke sana urusan lingkungan hidup.”
Artikel Terkait
Hujan Deras Landa Jakarta, 30 RT Terendam dan Ratusan Warga Mengungsi
Sentul Jadi Tuan Rumah Rakornas Besar, 4.453 Pejabat Bahas Percepatan Program Prioritas
KPK Dalami Aliran Dana dan Perjalanan Ridwan Kamil Terkait Kasus BJB
Guru 2026: Masihkah Ada Ruang untuk Wibawa di Tengah Transaksi Pendidikan?