Empat Jari Tertebas, Semangat Tak Pernah Padam: Kisah Abi Kusno dan Jihad Ekologinya

- Senin, 08 Desember 2025 | 17:00 WIB
Empat Jari Tertebas, Semangat Tak Pernah Padam: Kisah Abi Kusno dan Jihad Ekologinya

Bayangkan hutan Kalimantan yang lebat, dengan pepohonan purba menjulang tinggi. Di tengahnya, seorang pria paruh baya memilih untuk berdiri tegak. Namanya Abi Kusno Nachran. Bukan pahlawan super, hanya manusia biasa yang nekat melawan arus keserakahan demi menebus masa lalunya sendiri.

Ini cerita tentang pertobatan. Tentang nyawa yang dipertaruhkan untuk sesuap udara bersih.

I. Panggilan dari Tanah Haram

Abi Kusno lahir di Pangkalan Bun, 1941. Ia tumbuh di tepi hutan yang kian menyusut. Masa mudanya dihabiskan dengan memahami dunia bisnis Kalimantan, termasuk yang gelap dunia perkayuan. Ia tahu betul seluk-beluknya.

Namun begitu, segalanya berubah usai ia menunaikan ibadah Haji. Di depan Ka'bah, hatinya tersentak. Ia pulang membawa keyakinan baru: merusak alam ciptaan Tuhan adalah dosa besar, sebuah pengkhianatan.

Melihat Taman Nasional Tanjung Puting rumah orangutan, paru-paru dunia dijarah habis-habisan oleh para cukong kayu, darahnya mendidih. Ia merasa ikut bersalah jika diam saja. Maka, diwakafkannya sisa hidup untuk apa yang ia sebut "Jihad Ekologis". Ia bertekad melawan mafia yang saat itu seolah kebal hukum.

II. Melawan Raja Kayu

Awal 2000-an, Kalimantan bagai "wild west". Hukum rimba berlaku. Abi memilih pena dan kamera sebagai senjatanya. Ia jadi jurnalis investigasi untuk tabloid Lintas Khatulistiwa.

Ia tak cuma duduk di belakang meja. Abi menyusup ke hutan, menyisir sungai, memotret tongkang-tongkang penuh kayu ramin curian. Laporannya tajam, menyebut nama, menunjuk hidung para "Raja Kayu" yang punya koneksi hingga ke ibu kota.

Berkat data yang ia suplai ke LSM internasional seperti EIA dan aparat, beberapa kapal berhasil disita. Itu pukulan telak. Dan Abi pun naik daftar sebagai target utama para mafia.

III. Mandau yang Menari

Rabu, 28 November 2001. Langit Pangkalan Bun kelabu.

Di kota, Abi tiba-tiba dikepung sekelompok preman bayaran. Tanpa ampun, parang dan mandau diayunkan. Serangan itu bertujuan membunuh. Sebuah tebasan mengarah ke kepalanya. Refleks, Abi menangkis dengan tangan kosong.

Darah muncrat. Empat jari tangan kirinya putus, terlempar ke tanah.

Rasa sakit belum sampai, punggungnya sudah ditebas berkali-kali hingga menganga. Tujuh belas luka bacokan. Pelaku meninggalkannya terkapar, yakin nyawanya sudah melayang.

Tapi ajal belum datang. Dengan sisa tenaga, ia dilarikan ke rumah sakit. Sadar ancaman masih membayang, rekan-rekan aktivisnya membawanya ke Jerman untuk operasi dan pemulihan berbulan-bulan. Ratusan jahitan menyatukan tubuhnya, meski empat jari itu hilang untuk selamanya.

IV. Senator Berjari Satu

Orang lain mungkin akan pensiun. Bukan Abi Kusno. Justru sembuhnya dari luka itu membakar semangatnya lebih besar. Ia merasa diberi "hidup kedua".

"Mereka bisa memotong jariku, tapi tidak bisa memotong semangatku,"

Ia sadar, berteriak dari luar tak cukup. Maka pada 2004, ia maju sebagai calon anggota DPD RI. Rakyat Kalimantan Tengah memilihnya, tergerak oleh pengorbanannya.

Di Senayan, ia jadi senator yang paling "berisik". Ia mendobrak pintu menteri, mendesak penangkapan cukong yang masih bebas. Tangan kirinya yang cacat sering ia angkat tinggi dalam sidang, sebagai bukti nyata betapa bobroknya penegakan hukum.

V. Teror Kain Kafan

Tahun 2006, perjuangannya makin keras. Ia gencar sidak ke kantong-kantong kayu ilegal.

Beberapa hari sebelum akhir hayatnya, saat kunjungan kerja ke Muara Bulan, rombongannya dihadang massa. Sebuah paket disodorkan padanya. Isinya selembar kain kafan. Pesannya jelas: "Berhenti atau mati."

Abi menerimanya dengan tenang. Ia tak mundur. Ia tahu risikonya.

VI. Kilometer Terakhir di Cirebon

Tak lama setelah ancaman itu, nasib berkata lain. Pagi buta, 24 Juli 2006, di Jalan Tol Palimanan-Kanci, Cirebon, mobil yang ditumpanginya menabrak belakang sebuah truk. Benturan keras terjadi di sisi kiri depan, tepat tempat Abi duduk.

Ia menghembuskan napas terakhir di aspal jalan tol, jauh dari hutan yang ia bela. Polisi menyebutnya kecelakaan murni. Tapi bagi keluarga dan kawan-kawannya, kematian ini meninggalkan tanda tanya besar. Waktunya yang terlalu berdekatan dengan ancaman membuat dugaan sabotase sulit dihapus dari pikiran.

VII. Warisan yang Tak Tertebas

Abi Kusno Nachran wafat, tapi kisahnya tetap hidup. Ia meninggalkan warisan berharga: kesadaran bahwa menjaga alam di negeri ini butuh nyali untuk bertaruh nyawa. Namanya harum di kalangan aktivis global.

Hari ini, jika melihat pohon ramin yang masih tegak di Tanjung Puting, atau orangutan yang masih bergelantungan, ingatlah. Ada darah Abi Kusno yang pernah tumpah untuk semua itu. Ia bukti, satu orang dengan nurani bersih bisa lebih kuat dari sepasukan preman bersenjata tajam.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar