Ketika Ibadah Jadi Konten: Dilema Pamer Kesalehan di Era Digital

- Senin, 08 Desember 2025 | 11:25 WIB
Ketika Ibadah Jadi Konten: Dilema Pamer Kesalehan di Era Digital

Oleh: Afna Mufani

Kalau kamu scroll Instagram, lihat deh. Bukan cuma foto makanan atau liburan lagi yang membanjiri "feed". Sekarang, ada yang lain. Ada yang lebih "mewah". Potret sajadah di hotel bintang lima, dokumentasi sedekah dengan amplop tebal yang tertata rapi, atau "story" dari Tanah Suci dengan latar yang sempurna. Dunia digital ternyata sudah mengubah cara kita beragama, atau setidaknya, cara kita "terlihat" beragama.

Inilah yang banyak disebut sebagai "religiosity flexing" semacam pamer kesalehan. Fenomena ini bukan cuma soal unggahan biasa. Ini tentang menampilkan aset keagamaan, amal ibadah, atau simbol-simbol religius dengan cara yang berlebihan, seolah ingin dikonfirmasi oleh orang lain.

Motifnya kompleks. Dari sisi psikologis, ya, manusia memang butuh diakui. Di media sosial, pengakuan itu datang dalam bentuk "like" dan komentar. Saat unggahan ibadah dapat sambutan hangat, rasanya seperti dapat validasi. Dopamin pun mengalir. Tanpa disadari, ibadah yang mestinya komunikasi privat dengan Tuhan, perlahan berubah jadi pertunjukan untuk dilihat manusia.

Di sisi lain, tekanan sosialnya juga nyata. Di Indonesia, citra sebagai orang saleh punya nilai jual tinggi. Bisa jadi modal sosial yang kuat. Jadi, "flexing" keagamaan ini seringkali adalah strategi. Strategi membangun "personal branding" agar lebih dipercaya. Dan kepercayaan itu, ujung-ujungnya, bisa dikonversi jadi modal finansial: lewat "endorsement" produk halal, undangan ceramah, atau keuntungan dalam bisnis. Batas antara dakwah tulus dan pemasaran diri jadi samar sekali.

Standar Saleh yang Bikin Minder

Nah, masalahnya mulai muncul di sini. Ketika kesalehan diukur dari kemewahan visual pakaian branded, latar eksotis di Makkah, atau perjalanan umrah yang super lengkap terciptalah standar yang tidak realistis. Seolah-olah jadi orang yang taat itu cuma bisa dilakukan oleh mereka yang punya duit. Prinsip dasar agama tentang kesetaraan di hadapan Tuhan jadi tergerus.

Yang lebih parah, ini bikin orang jadi gelisah. Ibadahnya jadi terasa kurang "sah" kalau tidak di-"upload" dan dapat apresiasi. Padahal, seharusnya ibadah itu membebaskan kita dari ketergantungan pada penilaian orang lain. Ironisnya, di era digital, kita malah terbelenggu angka "followers" dan statistik notifikasi.

Dampak jangka panjangnya mengkhawatirkan. Bisa terjadi pendangkalan iman. Ibadah dilakukan bukan untuk transformasi batin, tapi sekadar untuk dapat konten yang bagus. Ritual suci berubah jadi sekadar performa. Citra di dunia digital pun bisa jauh berbeda dengan realita sehari-hari. Seseorang bisa tampak sangat alim di "feed", tapi perilakunya di kehidupan nyata? Bisa jadi berbeda jauh. Ini lama-lama bisa memicu krisis kepercayaan.

Lalu, Solusinya Apa?

Perlu ada semacam "kebersihan digital" dalam beragama. Istilah kerennya, "Digital Hygiene". Ini bukan larangan untuk berdakwah online, tapi lebih pada mengelola niat dan kebiasaan.

Contoh konkretnya sederhana: coba terapkan "post-later". Jangan langsung "upload" saat ibadah berlangsung. Nikmati dulu kekhusyukannya, baru pikirkan untuk berbagi jika memang perlu. Saat pergi haji atau umrah, misalnya, tetapkan waktu-waktu tertentu untuk benar-benar "offline". Matikan ponsel. Biarkan momen spiritual itu benar-benar privat dan terpisah dari hiruk-pikuk dunia maya.

Intinya, kita perlu mengembalikan esensi. Konten keagamaan seharusnya menginspirasi, membuat orang ingat pada Sang Pencipta, bukan malah bikin iri atau minder. Tantangan berat bagi kita semua adalah: jadi penerang yang manfaat cahayanya untuk orang lain, atau sekadar bintang yang sibuk memamerkan kilauannya sendiri?

Ujian Kejujuran di Era Pamer

Media sosial pada dasarnya adalah ujian baru bagi keimanan. Ia menguji kejujuran hati di tengah kemudahan untuk menciptakan citra. Dengan menjaga kebersihan digital dan terus introspeksi, kita berusaha agar jempol yang sibuk "scroll" dan "upload" tidak merusak kekhusyukan yang dibangun oleh dahi yang bersujud.

Oh ya, seringkali "religiosity flexing" ini dibungkus dengan dalih "syukur" atau "tahadduts bin ni'mah". Tapi hati-hati, beda tipis. Bersyukur itu orientasinya pada Tuhan, dan wujudnya adalah kerendahan hati serta berbagi manfaat. Sementara pamer, orientasinya pada diri sendiri dan ingin dilihat superior. Menampakkan nikmat di depan mereka yang kekurangan, tanpa ada aksi nyata untuk meringankan beban mereka, itu bukan syukur. Itu arogansi yang dibalut bahasa agama.

Kita perlu mengembalikan kemegahan agama pada kedalaman makna dan perbaikan karakter, bukan pada kemilau "feed" yang seringkali penuh kepura-puraan.

"Penulis adalah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler