Ia lalu merinci progres perbaikan akses. "Itu di Bener Meriah, yang saya dengar tiga hari lagi jalan akan terbuka. Aceh Tengah, yang saya dengar 17 Desember akan terbuka, dan Gayo Lues."
Selain jalan, listrik juga jadi momok. Enam rumah sakit itu sempat gelap gulita akibat kekurangan BBM dan genset. Untungnya, situasi mulai teratasi. "Tapi Alhamdulillah dua hari terakhir ini dengan bantuan dari teman-teman dari TNI bawain genset pakai sling itu, mudah-mudahan malam ini selesai semua ya," tuturnya.
Budi menekankan, pasokan listrik harus mutlak stabil. "Karena kita butuh 24 jam listrik nggak boleh mati. Karena begitu dia operasi, nggak boleh mati."
Masalah lain yang mengganjal adalah peralatan medis. Banyak alat canggih terendam banjir dan harus segera dipulihkan. "Besok teknisi akan datang dari Jakarta, saya minta untuk cek alatnya," ucap Budi.
Rencananya, alat yang bisa diperbaiki akan segera ditangani. Sementara untuk yang rusak total, akan diganti. "Kalau rusak kita akan drop, saya masih ada uang, tapi kalau kurang nanti saya akan minta," pungkasnya.
Jelas sekali, pertarungan di Aceh kini telah bergeser dari penyelamatan darurat ke fase pemulihan yang tak kalah pelik. Ancaman penyakit mengintai di balik lumpur yang mulai mengering.
Artikel Terkait
PPATK Catat Penurunan Signifikan Perputaran Dana Judi Online pada 2025
Persada 212 Desak Indonesia Keluar dari Board of Peace Trump, Sebut Wadah Pengkhianatan bagi Palestina
Dugaan Suap Rp50 Miliar ke Kejaksaan Agung Hambat Pengusutan Tambang Ilegal Kalbar
Mahkota Longsor di Burangrang Picu Rantai Bencana, Operasi SAR Terus Digenjot