Di Balik Sunyi Medsos, Aceh dan Sumut Menghadapi Duka yang Tak Terekam

- Minggu, 07 Desember 2025 | 16:40 WIB
Di Balik Sunyi Medsos, Aceh dan Sumut Menghadapi Duka yang Tak Terekam

✍🏻 Saief Alemdar

Ada yang bilang suasana mencekam cuma ada di media sosial. Percayalah, Om, kenyataannya justru sebaliknya.

Keadaan di lapangan jauh lebih mengerikan. Kenapa? Selama seminggu pertama banjir bandang melanda Sumatera, khususnya Aceh, listrik dan jaringan komunikasi benar-benar mati. Putus total. Akibatnya, tak ada satu pun rekaman yang bisa diunggah ke medsos saat itu.

Jadi, "keseraman di timeline" yang baru kita saksikan sekitar hari keempat itu cuma secuil. Itu pun muncul setelah sinyal mulai hidup dan relawan dari luar daerah berdatangan. Kalau mau jujur, kondisi sebenarnya... jauh lebih memilukan.

Dalam bencana seperti ini, hidup bisa berubah drastis dalam sekejap. Orang yang berkecukupan tiba-tiba kehilangan segalanya. Ada yang bekerja keras sejak kecil untuk punya rumah, lalu rumah itu lenyap tersapu air. Kalau bukan karena keyakinan bahwa ada kehidupan akhirat, mungkin mereka sudah tak sanggup bertahan.

Coba bayangkan. Kita yang sehari saja tanpa kuota internet sudah gelisah. Sementara saudara-saudara kita di Aceh, Sumut, dan Sumbar sudah hampir sepuluh hari bertahan dalam keadaan yang sulit. Tanpa makanan cukup, kedinginan di siang hari, gelap gulita di malam hari, dan air bersih jadi barang langka. Bisa jadi, ada yang masih memakai baju yang sama sejak hari pertama banjir datang.

Menurut sejumlah saksi, gambaran dahsyatnya bencana ini bisa dilihat dari tanker minyak yang berantakan di jalan atau gajah yang hanyut terbawa arus. Kalau benda sebesar dan sekuat itu bisa terlempar, bagaimana dengan nasib anak-anak dan orang tua yang rentan?

Semoga Allah menerima mereka yang wafat sebagai syuhada. Dan semoga diberikan kekuatan lebih bagi mereka yang masih berjuang untuk bertahan hidup.

Intinya, kalau kita tidak bisa turun tangan membantu, setidaknya jangan menambah beban dengan komentar yang tidak perlu.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar