Angin kencang menerpa badan helikopter, sementara di bawah, hamparan air yang luas menggantikan pemandangan biasa. Itulah situasi yang dihadapi awak helikopter Baharkam Polri saat mencoba mengirimkan bantuan logistik ke Aceh Tamiang. Akses darat putus total, dan yang tersisa hanyalah genangan. Karena tak ada satu pun titik pendaratan yang aman, pilihan terakhir adalah manuver hover di ketinggian yang sangat rendah. Sebuah langkah penuh risiko.
Menurut Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Sandi Nugroho, kondisi di lapangan memang memaksa. Proses dropping logistik harus dilakukan dengan segala kemungkinan bahaya yang mengintai.
kata Sandi dalam keterangannya, Sabtu (6/12).
Di sisi lain, tekanan di dalam kokpit tentu sangat besar. Pilot AKBP Dian Didik Arvianto dan copilot IPTU Vidya H. Mangundjaya, dibantu Aipda Sanioko dan Bripka Kukuh Wahyu, harus berpikir cepat. Jarak pandang terbatas, angin tak bersahabat. Keputusan harus diambil dalam hitungan detik.
Artikel Terkait
Kopi Aceh Terancam, 35 Ribu Hektar Kebun Hancur Diterjang Bencana
Ketika Ekonomi Iran Bergejolak, Mengapa Demonstrasi Tak Menyentuh Khamenei?
Prabowo Kembali ke Ibu Kota Usai Lawatan Diplomasi Tiga Negara Eropa
Chairil Gibran Ramadhan: Menentang Lupa dengan Puisi dan Catatan Kaki