Gubernur Aceh Berang: Bupati Cengeng, Lebih Baik Mundur Saja!

- Jumat, 05 Desember 2025 | 20:54 WIB
Gubernur Aceh Berang: Bupati Cengeng, Lebih Baik Mundur Saja!

Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, tak main-main. Ia menyebut para bupati yang dianggap cengeng dan tak becus menangani banjir, lebih baik mundur saja dari jabatannya. Tegas sekali.

"Kalau ada bupati yang cengeng dan menyerah menghadapi musibah ini, silakan mengundurkan diri atau turun dari jabatan. Kita ganti dengan yang lain, yang siap bekerja untuk rakyat,"

demikian kata Muzakir yang akrab disapa Mualem di Aceh Timur, Jumat lalu. Ucapannya itu adalah respons langsung atas keluhan sejumlah kepala daerah yang merasa kewalahan menghadapi bencana.

Bagi Mualem, banjir kali ini bukanlah bencana biasa. Ia menyamakannya dengan tsunami jilid kedua. Bahkan, dampak dan luas wilayah yang terdampak disebutnya lebih parah dibanding peristiwa tsunami tahun 2004 silam.

"Kalau tsunami 2004, air hanya datang sekitar dua jam. Akan tetapi, bencana banjir kali ini, air menggenangi rumah warga sampai lima hari lebih. Ini penderitaan luar biasa bagi rakyat Aceh,"

katanya lagi, menggambarkan betapa beratnya situasi.

Data sementara menunjukkan setidaknya lima wilayah terpukul sangat berat: Aceh Timur, Aceh Tamiang, Aceh Utara, sebagian Bireuen, dan sebagian Aceh Tengah. Di sana, ribuan rumah terendam, jalan-jalan putus, perekonomian macet total. Ribuan orang terpaksa mengungsi, sementara laporan korban jiwa dan kerusakan fasilitas umum terus berdatangan.

Di sisi lain, Gubernur tak hanya menyoroti bupati. Perintah tegas juga ditujukan ke seluruh jajaran di bawahnya, mulai dari camat hingga keuchik atau kepala desa. Mereka diminta proaktif, jangan cuma menunggu perintah dari atas.

"Tidak boleh ada camat atau keuchik yang hanya menunggu instruksi. Semua harus bergerak, turun ke lapangan, memastikan rakyat tertolong, dapur umum berjalan, bantuan sampai, dan tidak ada yang kelaparan,"

tegas Mualem.

Menurutnya, situasi darurat seperti ini butuh keberanian dan keputusan cepat. Main aman atau takut mengambil langkah justru berbahaya. "Rakyat butuh pemimpin yang berdiri di barisan terdepan, bukan yang lari dari tanggung jawab," imbuhnya.

Soal penanganan kesehatan, ada langkah menarik yang diambil. Pemerintah Aceh mendatangkan dokter dari Malaysia. Bantuan tenaga medis luar ini dianggap perlu, mengingat fasilitas kesehatan setempat kewalahan selain rusak terendam, juga menghadapi lonjakan pasien dengan penyakit pasca-banjir seperti diare dan infeksi kulit.

"Kita tidak boleh membiarkan rakyat kita berjuang sendiri. Semua sumber daya harus kita kerahkan, termasuk tenaga medis dari luar negeri jika dibutuhkan,"

ujar Gubernur.

Harapannya jelas: sinergi. Antara pemerintah, TNI-Polri, relawan, tenaga medis, dan masyarakat harus kompak untuk evakuasi, distribusi bantuan, hingga pemulihan. Bencana yang disebut 'tsunami kedua' ini, bagaimanapun, adalah pengingat pahit. Aceh masih sangat rentan, baik secara geografis maupun dari sisi kesiapan infrastruktur.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar