Buronan Pembunuh Pengusaha Kerupuk Ditangkap Usai Bersembunyi di Masjid-masjid

- Jumat, 05 Desember 2025 | 14:48 WIB
Buronan Pembunuh Pengusaha Kerupuk Ditangkap Usai Bersembunyi di Masjid-masjid

Setelah seminggu buron melintasi provinsi, akhirnya pelarian Dian Satria berhasil dihentikan. Pria 34 tahun ini tersangkut kasus perampokan dan pembunuhan seorang pengusaha kerupuk di Palembang. Polisi menangkapnya, mengakhiri pelarian yang ternyata penuh dengan tipu muslihat. Untuk menghindari kecurigaan, Dian kabur dengan cara yang licik: ia berpindah dari satu masjid ke masjid lain sambil mengaku sebagai seorang mualaf.

Menurut pengakuannya, modal pelariannya cuma Rp2 juta, uang hasil rampokan itu. Uang itu dipakainya untuk bertahan hidup: sewa kos murah, beli makan, dan sesekali menelepon pacar lewat counter HP. Selebihnya, ia mengandalkan masjid sebagai tempat berlindung.

“Saya kabur cuma pakai uang hasil merampok itu. Selebihnya saya numpang tidur di masjid,”

kata Dian saat diperiksa polisi, Kamis lalu. Ia terlihat tenang saat mengungkapkan itu.

Strateginya sederhana tapi cukup efektif untuk sementara. Dengan pura-pura jadi mualaf yang tekun, ia ikut kegiatan ibadah, tidur di serambi, dan berbaur. Semua itu dilakukannya agar tidak mencolok di mata warga sekitar.

“Saya berpindah-pindah masjid saja. Fokus ibadah, berharap polisi tidak menemukan saya,”

tambahnya.

Namun begitu, di balik taktik pelariannya itu, tersimpan kisah kejahatan yang jauh lebih mencekam. Polisi mengungkap kembali detail peristiwa di rumah korban. Awalnya, Dian cuma berniat meminta uang. Tapi situasi berubah jadi buruk saat permintaannya ditolak.

Dian mengaku panik. Pertengkaran pun berujung pada kekerasan mematikan yang merenggut nyawa Darma, sang pengusaha kerupuk.

“Korban melawan, saya terpaksa menjerat lehernya dengan sabit,”

katanya datar, hampir tak ada penyesalan di raut wajahnya.

Langkahnya bahkan bertambah sadis. Usai membunuh, dengan tenang ia sempat mencuci tangan dan kakinya yang masih berlumuran darah. Baru setelah itu, ia menemui istri korban yang kemudian juga menjadi sasaran penganiayaannya.

Di sisi lain, meski aksinya begitu kejam, Dian mencoba berdalih. Ia menyebut tekanan ekonomi sebagai pemicu utamanya nekat merampok dan membunuh.

“Ini hidup, saya terpaksa. Saya minta maaf kepada keluarga korban,”

ujarnya singkat, menutup pengakuannya. Permintaan maaf itu terdengar hambar, tercecer di antara kengerian yang telah ia lakukan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar