Aksi Beras di Hutan Picu Gelombang Sindiran untuk Zulkifli Hasan

- Jumat, 05 Desember 2025 | 07:20 WIB
Aksi Beras di Hutan Picu Gelombang Sindiran untuk Zulkifli Hasan

Gelombang kritik deras mengalir ke sosok Zulkifli Hasan. Eks Menteri Kehutanan yang kini memegang jabatan Menko Pangan sekaligus Ketua Umum PAN itu, dinilai publik sedang melakukan aksi pencitraan. Hujatan datang dari berbagai lapisan masyarakat, tak terkecuali dari dunia hiburan.

Banyak yang masih ingat, masa jabatannya di Kementerian Kehutanan dulu justru diwarnai rekor pengeluaran izin alih fungsi hutan yang fantastis. Angkanya mencapai 1,64 juta hektar luas yang sulit dibayangkan, setara dengan 25 kali lipat wilayah DKI Jakarta. Karena itulah, julukan "Raja Hutan" melekat padanya. Nah, kontras inilah yang memantik kemarahan.

Para selebritis pun tak tinggal diam. Mereka kompak menyuarakan kekecewaan di media sosial.

"Geli banget liatnya, stop please this is,"

tulis Luna Maya dengan nada tak suka.

"Air matanya kurang keluar pak,"

sindir Musdalifah Basri pedas.

"Ya Allah sik sempate pak sampean pencitraan,"

komen Inul Daratista. Dan masih banyak lagi cibiran serupa yang membanjiri kolom komentar.

Di sisi lain, aksi yang dimaksud adalah sebuah konten video yang beredar luas. Dalam video itu, Zulkifli Hasan terlihat sedang membagikan beras kepada warga di tengah hutan. Adegan inilah yang oleh banyak warganet dianggap sebagai upaya memperbaiki citra, terutama di tengah ingatan publik akan kebijakan hutan masa lalunya yang kontroversial.

Pemandangan seperti ini memang kerap memicu polemik. Di satu sisi, ada kegiatan sosial yang tampak. Namun begitu, publik sekarang makin kritis. Mereka tak mudah percaya pada tampilan luar, apalagi jika track record pelakunya punya catatan kelam yang bertolak belakang dengan aksi "baik" yang ditampilkan. Sentimen yang muncul lebih pada kejengkelan terhadap sikap yang dianggap tidak otentik.

Pada akhirnya, respons keras ini menunjukkan satu hal: masyarakat Indonesia semakin melek dan tak segan menyuarakan penilaiannya. Figur publik, terutama pejabat, dituntut untuk lebih konsisten antara kata dan perbuatan. Pencitraan yang dipaksakan justru berisiko memantik bumerang, seperti yang terjadi kali ini.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar