Titiek Soeharto Soroti 'Backing' Jenderal di Balik Pembalakan Liar
Banjir dan longsor yang melanda Sumatera hingga Aceh menyisakan duka. Tapi di tengah upaya pemulihan, muncul pertanyaan keras: siapa sebenarnya biang kerok di balik bencana alam ini? Ketua Komisi IV DPR, Siti Hediati "Titiek" Soeharto, melemparkan isu yang bikin banyak orang menyimak. Menurutnya, ada praktik illegal logging yang diduga kuat jadi pemicu bencana. Dan yang menarik, dia menyinggung soal "backing" atau pelindung dari kalangan militer.
Meski tak menyebut nama, Titiek dengan berani menyebut levelnya: jenderal berbintang dua atau bahkan tiga. Pernyataan ini dia sampaikan usai rapat dengan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni di kompleks DPR, Jakarta Selatan, Kamis lalu.
"Kemenhut gak usah takut apakah itu di belakangnya. Mau bintang 3, bintang 3 atau berapa, itu kami mendukung kementerian supaya ditindak dan tidak terjadi lagi," tegas Titiek.
Suaranya lantang. Dia meminta Kementerian Kehutanan untuk berani menyetop semua pemotongan pohon, legal maupun ilegal, yang nyata-nyata merugikan masyarakat. Titiek mendesak agar tidak ada rasa takut terhadap siapa pun yang berdiri di belakang perusahaan-perusahaan nakal itu.
Permintaannya jelas: aparat penegak hukum harus menghukum tegas para penebang pohon serampangan, baik untuk perluasan perkebunan, pertambangan, atau alasan lainnya.
Desakan ini bukan tanpa alasan. Pasca banjir bandang, batang-batang kayu gelondongan terpantau memenuhi aliran sungai. Bahkan ada laporan pengangkutan kayu dari Sibolga setelah bencana terjadi. Fakta di lapangan ini yang membuatnya geram.
"Kemudian mencari tahu, menghukum siapa saja yang menyebabkan pohon, batang-batang kayu yang sampai segitu banyak memenuhi aliran sungai maupun laut, pantai," ujarnya.
Artikel Terkait
Waspada Hujan dan Angin Kencang, Wajo Berpotensi Alami Suhu Ekstrem
Perempuan Tewas Tertimpa Tembok Roboh di Karangpilang
Tiga Tewas, Satu Hilang dalam Insiden Kapal Terbalik di Perairan Batam
Tiongkok Desak Penghentian Operasi Militer di Timur Tengah, Khawatir Konflik Meluas