Lagi-lagi, serangan udara terjadi di Gaza. Kali ini sasarannya adalah kawasan al-Mawasi, sebelah barat Khan Younis. Menurut laporan di lapangan, lima orang tewas dalam serangan drone itu. Dua di antaranya adalah anak-anak.
Suasana di lokasi digambarkan kacau. Debu dan kepulan asap mengepul dari reruntuhan tenda-tenda pengungsian. Jeritan tangis keluarga korban memecah kesunyian yang mencekam.
Di sisi lain, militer Israel punya klaim sendiri soal serangan ini. Lewat sebuah pernyataan, mereka menyebut targetnya adalah seorang komandan Hamas yang sedang bersembunyi di area tersebut.
"Serangan ini merupakan respons langsung terhadap pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan kelompok teroris Hamas di Rafah lebih awal hari ini."
Klaim itu mereka sampaikan ke media, termasuk seperti dilansir Al Jazeera. Intinya, serangan ini disebut sebagai balasan.
Namun begitu, klaim "pelanggaran gencatan senjata" dari pihak Israel ini terasa paradoks. Faktanya, sejak gencatan senjata diumumkan berlaku mulai 10 Oktober lalu, serangan-serangan skala kecil hampir terjadi setiap hari di berbagai penjuru Gaza. Situasinya jauh dari kata tenang atau aman.
Bentrokan di Rafah yang disebut-sebut sebagai pemicu, menurut sejumlah saksi, memang terjadi. Tapi lingkaran kekerasan ini seperti tidak ada ujungnya. Setiap klaim dibalas dengan serangan, dan setiap serangan menimbulkan korban baru seringkali warga sipil yang tidak tahu-menahu.
Nasib warga di al-Mawasi, yang seharusnya menjadi zona aman, kini makin mengenaskan. Mereka terjebak di antara dua pihak yang bertikai, dengan nyawa sebagai taruhannya.
Artikel Terkait
Kuasa Hukum Nadiem Protes Percepatan Sidang Chromobook, Sebut Langgar Prinsip Persidangan Adil
Peserta UTBK di Undip Diamankan Usai Gunakan Alat Bantu Dengar Tersembunyi
Kejagung Geledah Perusahaan Bayangan Milik Mantan Pejabat MA Zarof Ricar
BMKG: Sulsel Berawan, Siang Berpotensi Hujan Ringan pada 23 April