Ada juga yang membandingkan dengan cara pemerintah daerah. Menurut mereka, bantuan dari pemprov biasanya polos saja, tanpa embel-embel wajah pejabat.
Akun @ugethug mengungkapkan kekecewaannya dengan panjang lebar.
Kritik serupa bertebaran. Jean S Tadong lewat akun @jstadongg misalnya, menyoroti asal dana bantuan tersebut.
Gelombang komentar ini menunjukkan satu hal: di tengah situasi darurat, simbolisasi dan pencitraan seperti itu justru terasa janggal bagi banyak orang. Seolah ada yang lebih diprioritaskan selain kecepatan dan ketepatan bantuan itu sendiri.
Pemandangan stiker besar di karung beras itu kini jadi bahan pembicaraan yang lebih luas, jauh melampaui sekadar berita tentang pengiriman logistik. Ia memantik pertanyaan tentang etika, efektivitas, dan esensi dari sebuah bantuan di kala darurat.
Artikel Terkait
Di Balik Jarum Infus: Kisah Tiga Perempuan Menemukan Makna Hidup Melawan Kanker Payudara
Gajayana Terhenti Usai Tabrakan dengan Truk di Perlintasan Kebumen
Dari Tuduhan Es Gabus Palsu, Terkuak Rumah Ambruk dan Anak Putus Sekolah
Kobaran Api Hanguskan Pabrik Sandal di Medan, Diduga Bermula dari Korsleting