Gaji Petugas Sapu Asal China di Morowali Tembus Rp18 Juta, Pekerja Lokal Meradang

- Rabu, 03 Desember 2025 | 13:25 WIB
Gaji Petugas Sapu Asal China di Morowali Tembus Rp18 Juta, Pekerja Lokal Meradang

Kawasan industri PT IMIP di Morowali lagi-lagi jadi sorotan. Baru-ba ru kisah bandaranya yang ramai, kini giliran isu ketimpangan gaji yang bikin banyak orang menggeleng. Kali ini, yang jadi bahan perbincangan adalah gaji fantastis yang diterima pekerja asal China untuk pekerjaan yang maaf bukan hal rumit: menyapu.

Menurut seorang mantan karyawan yang diwawancarai program 'Rakyat Bersuara', TKA dari China yang bertugas sebagai petugas kebersihan digaji sekitar 8.000 Yuan per bulan. Kalau dirupiahkan, angkanya sekitar Rp18,7 juta.

"Saya tanya lewat penerjemah 'senang tidak kerja di Indonesia'. Dia jawab senang sekali'. Mereka digaji sekitar 8.000 Yuan,"

kata mantan karyawan yang disamarkan sebagai 'Mr X' itu.

Pengakuan ini langsung memantik reaksi. Ya iyalah, wajar saja publik gerah. Bagaimana tidak? Pekerja lokal yang ngurus hal-hal berat dan berisiko tinggi di area smelter, dapatnya belum tentu segitu. Sementara, pekerjaan bersih-bersih yang sebenarnya bisa dilakukan tenaga sekitar malah dibayar super tinggi untuk tenaga impor.

Di sisi lain, muncullah sederet pertanyaan yang butuh jawaban segera. Apa sih dasar perhitungan gaji di IMIP? Kenapa posisi non-spesialis bisa dapat puluhan juta? Proses rekrutmennya sendiri sudah sesuai aturan atau belum? Pertanyaan-pertanyaan ini makin keras terdengar, terutama dari aktivis perburuhan dan warganet yang gusar.

Mereka khawatir, selain jelas-jelas tidak adil, situasi seperti ini bisa memicu kecemburuan sosial yang nggak sehat. Pekerja lokal yang tulang punggung industri justru merasa dianggap sebelah mata.

Sayangnya, sampai berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak IMIP. Padahal, desakan untuk transparan sudah menguat. Masyarakat butuh kepastian dan keadilan, terutama untuk skema pengupahan dan kualifikasi pekerja asing di perusahaan yang disebut-sebut sebagai pilar industri nikel nasional ini.

Nah, kita tunggu saja langkah selanjutnya. Isu ini terlalu besar untuk diabaikan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar