Di tengah data statistik yang suram, upaya pencarian korban hilang terus digenjot. Tim SAR tak kenal lelah menyisir lokasi bencana. Kabar baiknya, sejumlah wilayah yang semula terisolasi kini mulai bisa diakses, membuka jalan bagi operasi penyelamatan yang lebih intensif.
Mereka bahkan mengerahkan anjing pelacak (K9) untuk membantu. Kondisi lapangan yang penuh lumpur kering bercampur puing kayu membuat pencarian manual sangat sulit.
Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, mengakui tantangan itu di Gedung DPR, Senayan.
"Karena kondisi korban, khususnya yang akibat bencana banjir lumpur, tentunya ini mengalami kesulitan tersendiri," ujarnya pada Selasa (2/12).
"Pada saat lumpur itu ketebalannya tersendiri, kemudian di dalamnya bercampur dengan kayu dan mulai mengering. Sehingga kita membutuhkan salah satunya adalah (anjing) K9."
Jelas, perjuangan di Sumatera masih panjang. Dari evakuasi hingga pemulihan, jalan yang harus ditempuh masih berat sekali.
Artikel Terkait
Guru Besar Unair: Kriminalisasi Satire Ancaman Serius bagi Demokrasi
Rismon Sianipar Tantang Eggi Sudjana: Silakan Minggir dari Lapangan!
Target Pajak 2025 Jeblok Rp 271 Triliun, Proyek Yayasan Jadi Sorotan
Cinta yang Mencairkan Hati Raja Iblis: Kisah Fenomenal Love Between Fairy and Devil