Nada Mukhtarudin terdengar cukup tenang, meyakinkan. Dia menegaskan bahwa pemerintah akan terus mendampingi Seni hingga semuanya selesai. Baru setelah status sakti korban tak lagi dibutuhkan, Seni bisa diantar pulang ke kampung halamannya.
Ada poin penting yang dia tekankan. Meski keberangkatan Seni dulu disebut non-prosedural alias tidak melalui jalur resmi negara tetap tak akan tinggal diam. “Dan itu sekali lagi ya, itu semuanya yang berangkat non-prosedural. Tapi siapa pun itu, warga negara kita, kita urus, kita lindungi, kita bantu, kita dampingi,” tandasnya dengan tegas.
Cerita panjang Seni ini memang menyayat hati. Dia hilang kontak sejak 21 tahun lalu, disekap, disiksa, dan tak pernah dibayar gajinya oleh majikan di Malaysia. Keluarganya, yang hampir putus asa, mendapat kabar mengejutkan sekitar Oktober tahun lalu dari polisi. Saat itu, polisi mencari Ismi, kakak Seni, yang kebetulan sedang di luar kota. Kabar itu lalu disampaikan ke Slamet, anggota keluarga lainnya.
Kini, harapan terbesar tentu ada pada Riki Alfian, anak Seni yang ditinggalkannya saat masih balita, 3,5 tahun. Riki kini sudah berkeluarga dan punya anak. Mereka semua menunggu di Temanggung, berharap proses hukum di Malaysia segera tuntas, agar ibu dan anak ini akhirnya bisa berkumpul kembali setelah dua dekade lebih terpisah.
Artikel Terkait
Mojtaba Khamenei, Putra Pemimpin Tertinggi, Disebut Calon Kuat Penerus Kekuasaan di Iran
Pelatihan Al-Quran Isyarat Cetak Guru Baru untuk Pendidikan Inklusif
Menteri Pertahanan Israel Ancam Eliminasi Calon Pengganti Pemimpin Tertinggi Iran
Anggota Polsek Panakkukang Ditahan sebagai Tersangka Kasus Tewasnya Remaja di Makassar