Nah, payung lukis Juwiring ini bukan cuma hiasan belaka. Fungsinya dalam budaya Jawa itu sangat mendalam. Ia hadir dalam upacara adat, kirab budaya, bahkan ritual kematian sebagai bentuk penghormatan pada leluhur. Makanya, peminatnya datang dari mana-mana. Dari Klaten dan Yogyakarta, sampai Jawa Timur dan Bali, kebanyakan untuk keperluan upacara atau pertunjukan seni.
Di sisi lain, bagi Ngadiyakur, semua ini jauh lebih dari sekadar urusan mencari nafkah. Ada nilai yang lebih tinggi yang ia pertahankan.
“Payung lukis adalah napas budaya kami. Selama tangan saya masih kuat memegang kuas, saya akan terus membuatnya,” tegasnya.
Dari ruang kerja sederhana itu, dengan penuh kesabaran, sebuah warisan terus dirawat. Agar tak lekang oleh zaman. Agar ceritanya tetap ada.
Rizky Muhammad Bintang, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prodi Ilmu Komunikasi.
Artikel Terkait
Penerapan Pasal Obstruction of Justice dalam UU Tipikor Dikritik Brutal oleh Pengacara
Gerhana Bulan Total Warnai Langit Makassar Bertepatan dengan Buka Puasa
Bupati Sidrap Ajak Warga Perbanyak Zakat dan Sedekah Usai Panen Menggembirakan
Sopir Truk Tewas Usai Benturan dengan Forklift di Dermaga Ciwandan