Nah, payung lukis Juwiring ini bukan cuma hiasan belaka. Fungsinya dalam budaya Jawa itu sangat mendalam. Ia hadir dalam upacara adat, kirab budaya, bahkan ritual kematian sebagai bentuk penghormatan pada leluhur. Makanya, peminatnya datang dari mana-mana. Dari Klaten dan Yogyakarta, sampai Jawa Timur dan Bali, kebanyakan untuk keperluan upacara atau pertunjukan seni.
Di sisi lain, bagi Ngadiyakur, semua ini jauh lebih dari sekadar urusan mencari nafkah. Ada nilai yang lebih tinggi yang ia pertahankan.
“Payung lukis adalah napas budaya kami. Selama tangan saya masih kuat memegang kuas, saya akan terus membuatnya,” tegasnya.
Dari ruang kerja sederhana itu, dengan penuh kesabaran, sebuah warisan terus dirawat. Agar tak lekang oleh zaman. Agar ceritanya tetap ada.
Rizky Muhammad Bintang, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prodi Ilmu Komunikasi.
Artikel Terkait
Medali Nobel Perdamaian Machado Berlabuh di Tangan Trump
Kiai Eko Tuding Bencana Aceh Sebagai Laknat, Warganet Geram
Pascabencana Sumatera, Satgas Fokus pada Membangun Lebih Tangguh
Prabowo Baca Sinyal Global, Diplomasi Indonesia Bergerak di Tengah Badai