Nigeria Berduka: Pendeta dan Pengantin Jadi Korban Penculikan Brutal

- Senin, 01 Desember 2025 | 12:42 WIB
Nigeria Berduka: Pendeta dan Pengantin Jadi Korban Penculikan Brutal

Nigeria kembali diguncang aksi penculikan brutal. Kali ini, 26 orang harus menjadi korban dalam dua serangan terpisah yang terjadi hampir berbarengan. Seorang pendeta dan seorang pengantin wanita termasuk di antara mereka yang diambil paksa oleh kelompok bersenjata.

Menurut keterangan resmi, serangan pertama terjadi di Negara Bagian Kogi, tepatnya di daerah pelosok Ejiba. Saat itu, Minggu (30/11), seorang pendeta dan 11 jemaatnya sedang beribadah di gereja. Tiba-tiba saja, kelompok bersenjata itu muncul dan membawa mereka pergi.

“Helikopter polisi telah tiba untuk operasi darat dan udara guna membebaskan para jamaat yang diculik,” ujar Komisioner Informasi Kogi, Kingsley Femi Fanwo, kepada AFP.

Ia juga mengimbau warga, khususnya di daerah terpencil, untuk lebih berhati-hati.

“Saya mendesak tempat-tempat ibadah di pelosok untuk mempertimbangkan kembali pelaksanaan ibadah di daerah rawan kejahatan hingga situasi membaik,” tegas Fanwo.

Sementara itu, di ujung barat laut Nigeria, teror serupa terjadi. Menurut sejumlah saksi, Desa Chacho di Negara Bagian Sokoto diserbu pada Sabtu malam. Aksi itu berlangsung hingga Minggu pagi, dan 14 orang berhasil dibawa kabur. Yang menyayat hati, di antara korban ada seorang pengantin beserta sepuluh bridesmaid-nya. Bayangkan, momen bahagia itu berubah jadi mimpi buruk.

Ini bukan cerita baru. Penculikan untuk tebusan sudah seperti epidemi di Nigeria, menyebar ke hampir semua wilayah. Polisi menyebut pelakunya sebagai ‘bandit’, sebuah istilah yang mencakup kelompok kriminal lokal hingga elemen ekstremis. Motifnya jelas: uang.

Namun begitu, dampaknya jauh lebih dalam. Rangkaian serangan terbaru ini terjadi kurang dari seminggu setelah Presiden Bola Tinubu mendeklarasikan kondisi darurat. Situasi ini jelas jadi ujian berat bagi pemerintahannya.

Di sisi lain, gelombang kekerasan ini juga menarik perhatian dunia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump, misalnya, pernah menyoroti khusus penculikan terhadap umat Kristen di Nigeria. Ia bahkan pernah mengancam akan meluncurkan operasi darat jika aksi itu terus berlanjut. Ancaman itu mungkin terdengar ekstrem, tapi itu menunjukkan betapa runyamnya masalah keamanan di Nigeria.

Kini, yang tersisa adalah kecemasan dan tanda tanya besar. Kapan semua ini akan berakhir? Warga di pelosok hidup dalam ketakutan, sementara otoritas berusaha mengejar waktu untuk menyelamatkan nyawa-nyawa yang masih hilang.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar