Aceh Tengah Lumpuh, Bupati Terpaksa Angkat Tangan

- Senin, 01 Desember 2025 | 10:00 WIB
Aceh Tengah Lumpuh, Bupati Terpaksa Angkat Tangan

Keadaan di Kabupaten Aceh Tengah benar-benar memprihatinkan. Bencana hidrometeorologi yang melanda sejak 26 November lalu telah mengubah segalanya. Banjir luapan, banjir bandang, dan tanah longsor datang bertubi-tubi, menciptakan situasi yang jauh di luar kendali pemerintah setempat.

Beredarlah sebuah surat di media sosial tepatnya di akun Instagram @infobandaaceh yang konon berasal dari Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga. Surat bernomor 360/565/BPBD/2025 itu berisi pengakuan terbuka: Pemkab Aceh Tengah tak lagi sanggup menangani darurat bencana ini sendirian. Mereka butuh bantuan, dan butuh sekarang.

“Mengingat kondisi dampak bencana ini, kami selaku Bupati Aceh Tengah menyatakan ketidakmampuan dalam melaksanakan upaya penanganan darurat bencana sebagaimana mestinya,”

Begitulah bunyi surat yang ditandatangani Haili pada 27 November 2025 itu. Meski keasliannya belum dikonfirmasi secara resmi, isinya sejalan dengan situasi yang kian memburuk di lapangan.

Data terbaru yang dirilis BPBD setempat sungguh memilukan. Korban jiwa sudah mencapai 21 orang. Yang hilang masih 24 orang. Sementara itu, lebih dari 54 ribu jiwa terpaksa mengungsi. Bayangkan 54.199 manusia yang kehilangan tempat tinggal, terputus dari keluarga, dan hidup dalam ketidakpastian.

“Prioritas pertama kami adalah mencari 24 saudara kita yang hilang dan memastikan semua pengungsi mendapatkan kebutuhan dasar,”

Begitu penegasan Haili Yoga dalam siaran langsung Minggu (30/11) lalu. Namun upaya itu tak mudah. Sebanyak 59 ruas jalan rusak parah, membuat distribusi bantuan berjalan sangat lambat. Bahan bakar minyak langka, dan harus diprioritaskan untuk evakuasi serta pengiriman logistik paling mendesak.

Di sisi lain, kerusakan infrastruktur benar-benar masif. Listrik dan telekomunikasi sempat lumpuh total di 14 kecamatan. Meski internet satelit sudah dipasang, jaringannya masih terbatas. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, 779 rumah hancur diterjang bencana.

Bantuan dari provinsi dan pusat mulai masuk lewat jalur udara, terutama untuk menjangkau desa-desa terisolasi. Beras, minyak, dan kebutuhan pokok lainnya sudah didistribusikan. Tapi jumlahnya masih jauh dari cukup. Krisis sembako terjadi di mana-mana, sementara air bersih menjadi barang langka.

Layanan kesehatan pun nyaris kolaps. Dari puluhan ribu pengungsi, baru 402 orang yang berhasil dijangkau tim medis. Padahal di antara mereka ada 1.230 balita, ratusan ibu hamil, dan ibu menyusui yang membutuhkan perhatian khusus.

Stok obat-obatan di ambang habis. Antibiotik dan pereda nyeri hanya tersisa 300 unit. Perlengkapan cuci darah (BHP) hanya cukup sampai 3 Desember mendatang.

“Kami butuh pasokan obat-obatan standar sesegera mungkin,”

Desakan Haili terdengar pilu. Situasinya memang kritis. Waktu terus berjalan, sementara bantuan yang datang masih seperti setetes air di lautan kebutuhan.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar