kata Mu’ti.
“Untuk memastikan bahwa sastra diajarkan, mungkin bisa diusulkan namanya nanti pelajaran ‘Bahasa dan Sastra Indonesia’. Mungkin bisa begitu. Untuk memastikan bahwa sastra termasuk di dalam pembelajaran Bahasa Indonesia,”
lanjutnya.
Ia menegaskan, usulan ini muncul karena banyak masukan dari berbagai pihak yang khawatir sastra semakin terpinggirkan.
Kekhawatiran Anggota DPR: Bahasa Indonesia Tergerus Gadget
Dalam rapat yang sama, anggota Komisi X DPR dari PKB, Habib Syarief, menyoroti penurunan kualitas berbahasa di kalangan pelajar. Menurutnya, gadget punya andil besar dalam menciptakan bahasa-bahasa baru yang tidak sesuai kaidah.
Ia mendorong Kemendikdasmen untuk mengkaji ulang pendekatan pedagogis dalam pengajaran Bahasa Indonesia. “Nampaknya selain kurikulum, Kemendikdasmen perlu ada satu kajian khusus tentang bagaimana pedagogisnya, cara mengajarkan Bahasa Indonesia yang baik,”
tambahnya.
Habib juga menyayangkan makin hilangnya perhatian generasi muda terhadap sastra. Menurutnya, akses terhadap buku-buku klasik semakin minim, dan itu merupakan kerugian besar.
“Nah, mudah-mudahan ini bisa dikaji kembali. Dan anak-anak sekarang banyak yang tidak tahu, ya. Itu adalah sebuah kerugian besar,”
tutupnya.
Artikel Terkait
Balai Besar POM Makassar Sita 96.000 Butir Obat Keras Ilegal
Pemkab Bone dan BPVP Bantaeng Gelar Pelatihan Koperasi untuk Seluruh Kecamatan
Gubernur Sulsel Resmi Buka MTQ ke-34, Diikuti 1.044 Peserta
Tiket Konser LANY di Jakarta Dibuka, Harga Mulai Rp850 Ribu