Kalau kita memasak, pasti selalu ada sisa. Kulit bawang merah dan bawang putih, misalnya. Biasanya sih langsung masuk tong sampah, dianggap remah tak berguna. Tapi jangan salah, di tangan seorang siswa SMP di Surabaya, justru jadi sesuatu yang luar biasa.
Raihan Jouzu Syamsudin, siswa SMPN 57 Surabaya ini, berhasil mengubah kulit bawang putih yang biasanya cuma numpuk di pasar atau dapur menjadi tinta spidol. Bayangkan, dari sampah dapur ke alat tulis.
Gagasan ini muncul dari keprihatinannya. Dia lihat kulit bawang putih cuma dikomposkan bareng sampah organik lain. Menurutnya, sayang banget kalau cuma berakhir di situ. Ada nilai lebih yang bisa digali.
Proses kreatif ini sudah dia jalani sejak setahun lalu, tepatnya saat dia bersiap ikut kompetisi Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup 2024.
Awalnya, Raihan mengaku sempat kesulitan. Butuh kulit bawang putih banyak, targetnya sampai 1000 kilogram per hari. Gimana caranya nyari sebanyak itu?
“Alhamdulillah, dengan semangat pantang menyerah, akhirnya saya menemukan pasar dan kampung yang banyak menghasilkan kulit bawang putih,”
ucap Raihan suatu hari di akhir November.
Dia menamai inovasinya "Kubangput Ink". Namanya singkat saja, tapi punya makna mendalam: tinta yang berasal dari kulit bawang putih.
Prosesnya nggak asal campur. Ada tahapan khusus yang harus dilalui. Kulit bawang putih harus di-over dulu untuk diambil pigmen hitam alaminya. Itu yang nantinya jadi bahan dasar tintanya.
Tapi, nggak semua kulit bawang bisa dipakai. Kalau sudah terlalu lama disimpan dan jadi lembab, ya nggak bisa diproses jadi tinta. Nah, untuk sampah yang semacam ini, Raihan punya solusi lain: diolah jadi eco enzim. Jadi benar-benar zero waste.
Di sisi lain, Kubangput Ink ini bukan cuma sekadar mengurangi limbah. Tinta ini juga lebih aman, baik buat pengguna maupun lingkungan. Ramah dan tidak beracun.
Berkat inovasi ini, Raihan pun melenggang ke berbagai pameran lingkungan dan meraih sejumlah penghargaan. Salah satunya adalah gelar Terbaik II Pangeran Lingkungan Hidup 2024.
“Anak-anak muda punya peran penting dalam melestarikan lingkungan. Kita bisa mulai dari hal kecil, seperti memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar kita untuk menciptakan produk yang berguna dan ramah lingkungan,”
jelasnya penuh semangat.
Harapannya sih sederhana: mengajak lebih banyak anak muda berani berkreasi. Menciptakan sesuatu yang tidak hanya kreatif, tapi juga punya dampak nyata.
“Saya berharap pameran ini bisa menjadi contoh nyata bahwa kita bisa berkontribusi dengan cara yang kreatif dan bermanfaat,”
tutup Raihan. Dari kulit bawang yang sering diabaikan, lahir sebuah inspirasi yang mengubah cara kita memandang sampah.
Artikel Terkait
Puluhan Dapur Makan Bergizi Gratis di Jombang Berhenti Beroperasi Akibat Dana Operasional dari BGN Mandek
Timnas Indonesia Tutup FIFA Matchday Juni 2026 dengan Kemenangan Sempurna, Taklukkan Mozambik 1-0
WNA Singapura Ditemukan Tewas di Apartemen Batam Center, Polisi Selidiki Penyebab Kematian
Timnas Putri Indonesia Ditahan Imbang Kamboja di Laga Penutup FIFA Matchday