- Tagline ingin "menghidupkan kembali Gus Dur", tapi sikap kritis justru hilang entah ke mana.
- Mengaku ingin "governing NU", sementara tata kelola PBNU sendiri remuk redam.
- Bendera khittah dikibarkan, tapi malah tercebur dalam kubangan dukung-mendukung Pilpres.
- Mengaku berkhidmat untuk bangsa, eh malah gaduh sendiri soal tambang.
- Bicara ingin membangun peradaban dunia, yang diundang justru tokoh zionis perusak peradaban.
Satu Abad NU seharusnya jadi momen kejayaan. Nyatanya? Dilewati dengan perih dan prihatin yang menyesakkan dada.
Pertanyaannya: sampai kapan kondisi jam'iyyah dibiarkan begini?
Al-fatihah untuk Hadratus Syekh Mbah Hasyim Asy'ari dan para muassis NU lainnya.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Artikel Terkait
BAZNAS Tetapkan Zakat Fitrah Rp50.000 per Jiwa untuk Ramadan Tahun Ini
Gunung Ibu di Maluku Utara Erupsi, Luncurkan Kolom Abu 600 Meter
Inter Milan Tersingkir dari Liga Champions Usai Ditaklukkan Bodo/Glimt di San Siro
Persebaya Vs PSM Makassar: Duel Sengit Dua Raksasa di Markas Bajul Ijo