- Tagline ingin "menghidupkan kembali Gus Dur", tapi sikap kritis justru hilang entah ke mana.
- Mengaku ingin "governing NU", sementara tata kelola PBNU sendiri remuk redam.
- Bendera khittah dikibarkan, tapi malah tercebur dalam kubangan dukung-mendukung Pilpres.
- Mengaku berkhidmat untuk bangsa, eh malah gaduh sendiri soal tambang.
- Bicara ingin membangun peradaban dunia, yang diundang justru tokoh zionis perusak peradaban.
Satu Abad NU seharusnya jadi momen kejayaan. Nyatanya? Dilewati dengan perih dan prihatin yang menyesakkan dada.
Pertanyaannya: sampai kapan kondisi jam'iyyah dibiarkan begini?
Al-fatihah untuk Hadratus Syekh Mbah Hasyim Asy'ari dan para muassis NU lainnya.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Artikel Terkait
KPK Beberkan Modus Bupati Tulungagung Paksa 16 Dinas Setor Rp2,7 Miliar untuk Keperluan Pribadi
Bupati Bone Pastikan 10 Sumur Bor dari Pusat Segera Diresmikan
BMKG Prakirakan Cuaca Bervariasi, Hujan Ringan Berpotensi Guyur Sejumlah Daerah di Sulsel
Damkar Mamuju Evakuasi Piton 6 Meter yang Memangsa Kambing Warga