- Tagline ingin "menghidupkan kembali Gus Dur", tapi sikap kritis justru hilang entah ke mana.
- Mengaku ingin "governing NU", sementara tata kelola PBNU sendiri remuk redam.
- Bendera khittah dikibarkan, tapi malah tercebur dalam kubangan dukung-mendukung Pilpres.
- Mengaku berkhidmat untuk bangsa, eh malah gaduh sendiri soal tambang.
- Bicara ingin membangun peradaban dunia, yang diundang justru tokoh zionis perusak peradaban.
Satu Abad NU seharusnya jadi momen kejayaan. Nyatanya? Dilewati dengan perih dan prihatin yang menyesakkan dada.
Pertanyaannya: sampai kapan kondisi jam'iyyah dibiarkan begini?
Al-fatihah untuk Hadratus Syekh Mbah Hasyim Asy'ari dan para muassis NU lainnya.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Artikel Terkait
Pramono Anung Tegaskan JPO Sarinah Akan Dibangun Kembali, Utamakan Akses Difabel
Indonesia dan Turki Sepakati Aksi Nyata, Dari Gaza hingga Industri Pertahanan
Prajurit Gugur di Nduga, Ayah Banggakan Tekad Baja Anaknya yang Tak Pernah Menyerah
Megawati Bikin Heboh, Nyanyikan Cinta Hampa di Panggung Rakernas PDIP