Desakan Mundur Menggema, Ketua PBNU Yahya Staquf Dikepung Protes

- Minggu, 23 November 2025 | 05:20 WIB
Desakan Mundur Menggema, Ketua PBNU Yahya Staquf Dikepung Protes

Gelombang protes ternyata bergulir di tubuh Nahdlatul Ulama. Organisasi Islam terbesar di Indonesia ini sedang dilanda gejolak internal yang cukup serius.

Yahya Cholil Staquf, sang ketua, kini berada dalam posisi yang sulit. Ia didesak untuk mundur dari jabatannya. Pemicunya? Keputusannya mengundang seorang akademisi asal Amerika Serikat, Peter Berkowitz, ke sebuah acara internal NU bulan Agustus lalu. Yang jadi masalah, Berkowitz dikenal luas sebagai sosok yang vokal mendukung Israel.

Menurut sejumlah laporan, pimpinan NU sudah memberi waktu tiga hari pada Staquf untuk mengajukan pengunduran diri secara sukarela. Jika tidak, ia terancam dicopot dari posisinya.

Desakan ini tak main-main. Organisasi yang mengklaim punya sekitar 100 juta anggota dan afiliasi ini menyebut undangan Staquf kepada pihak yang "berafiliasi dengan jaringan Zionisme internasional" sebagai alasan utama. Di sisi lain, ada juga tuduhan soal pengelolaan keuangan yang tidak beres, meski rinciannya belum sepenuhnya jelas.

Najib Azca, salah seorang pejabat NU, mengonfirmasi pada Reuters bahwa kontroversi ini memang berawal dari kedatangan Berkowitz. Mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS itu diundang sebagai pembicara dalam acara pelatihan internal.

Berkowitz sendiri bukan nama baru dalam perdebatan mengenai konflik Israel-Palestina. Di situs pribadinya, ia kerap menulis artikel yang mendukung langkah-langkah Israel di Gaza. Bahkan pada pertengahan September lalu, ia secara khusus menulis artikel berjudul "Debunking Genocide Allegations Against Israel" yang intinya membantah tudingan genosida terhadap Israel.

"Debunking Genocide Allegations Against Israel," RealClearPolitics, Sept. 14, 2025

Kedatangan Berkowitz di acara NU ini jelas menuai kecaman. Bagi banyak kalangan di organisasi tersebut, mengundang pembicara yang berpandangan pro-Israel dianggap sebagai langkah yang tidak sensitif, apalagi di tengah situasi konflik yang masih memanas.

Sekarang, semua mata tertuju pada Staquf. Akankah ia mengundurkan diri dalam tenggat waktu yang diberikan? Atau justru memilih bertahan dan menghadapi konsekuensinya? Situasi ini benar-benar menguji kepemimpinannya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar