Dusun Kamar A dan Sumbersari di Desa Supiturang, Lumajang, adalah tempat yang paling menderita. Erupsi Gunung Semeru pada Rabu lalu benar-benar mengubah segalanya.
Dua hari kemudian, suasana di sana sunyi senyap. Menjelang senja di hari Jumat, sekitar pukul lima lebih lima belas, tak ada satu pun penghuni yang terlihat. Kedua dusun itu seperti kota mati.
Material vulkanik di mana-mana. Batu-batu besar dan pasir memenuhi jalan dan halaman rumah. Banyak bangunan hancur total, tertimbun tanpa ampun. Puing-puing berserakan tak karuan, membentuk pemandangan yang suram dan memilukan.
Di sisi lain, nasib tragis menimpa SDN Supiturang 02 di Dusun Sumbersari. Sekolah itu kini sudah tidak ada. Bangunannya rata dengan tanah, seolah-olah lenyap ditelan bumi setelah diterjang Awan Panas Guguran.
Yang tersisa hanyalah beberapa pohon yang masih tegak berdiri, meski sebagian batangnya sudah tertimbun material. Di balik kehancuran itu, air terlihat mengalir turun dari lereng, menambah kesan muram lanskap yang porak-poranda.
Seorang pemuda di lokasi dengan singkat namun jelas menggambarkan situasinya.
“SD 2 (Supiturang) ya itu, sudah rata tanah,” ucapnya.
Artikel Terkait
Prabowo dan KSAD Bahas Capaian TNI AD: 300 Jembatan dan Renovasi Sekolah Tuntas dalam Tiga Bulan
IHSG Melemah Tipis ke 7.621, Tekanan Jual Masih Membayangi
Mentan: Swasembada Pangan Hanya Mungkin dengan Sinergi Pusat-Daerah
PN Jakarta Pusat Tolak Eksepsi Mardiono, Perkara Muktamar PPP Lanjut ke Pemeriksaan Bukti